— JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi primadona bagi investor asing sepanjang periode 3-21 Agustus 2026. Data dari aplikasi Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa investor asing melakukan *net buy* senilai total Rp 1,61 triliun pada saham bank pelat merah ini.

Pencapaian BBRI ini melampaui emiten bank besar lainnya. Di posisi kedua, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan *net buy* asing sebesar Rp 771 miliar. Menyusul kemudian saham PT Timah Tbk (TINS) dengan *net buy* Rp 732,8 miliar, PT Antam Tbk (ANTM) Rp 529,3 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Rp 231 miliar.

Perolehan positif BBRI ini menunjukkan rotasi yang signifikan. Pasalnya, pada periode 29 Juni hingga 17 Juli 2026, saham BBRI justru mencatatkan *net sell* asing mencapai Rp 1,44 triliun.

Pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, saham BBRI melonjak 2,87% ke level Rp 3.230 per saham. Pada hari yang sama, investor asing mencatatkan *net buy* sebesar Rp 628,49 miliar. Dalam sebulan terakhir, saham Bank Rakyat Indonesia telah menguat 6,95%.

KB Valbury Sekuritas merekomendasikan untuk mempertahankan rekomendasi *buy* saham BBRI dengan target harga Rp 4.010 yang dihitung menggunakan metode *Gordon Growth Model* (GGM). Target harga ini setara dengan rasio *price to book value* (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026.

Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi yang dianggap sangat murah, dengan P/B 2026 sebesar 1,2 kali. Angka ini berada sedikit di bawah level -2 standar deviasi (-2SD) yang tercatat pada 1,5 kali.

Potensi katalis positif bagi saham BBRI meliputi pertumbuhan kredit yang diprediksi lebih tinggi dari ekspektasi. Selain itu, penyesuaian ulang imbal hasil kredit secara moderat dapat membantu *net interest margin* (NIM) melampaui panduan tahun 2026.

Faktor penting lainnya adalah potensi *cost of credit* (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan seiring perbaikan kualitas aset. Hal ini akan berkontribusi pada pertumbuhan laba BRI pada tahun 2026. Pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga diprediksi menjadi katalis utama bagi pertumbuhan *pre-provision operating profit* (PPOP).

Namun, terdapat pula risiko yang perlu diwaspadai. Pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi, serta kenaikan pencadangan yang jauh lebih besar menjadi ancaman. Sentimen negatif domestik yang berlanjut dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berpotensi menekan sentimen pasar terhadap saham BBRI.