DailyFX.ID — JAKARTA – Investor asing secara tak terduga melakukan aksi jual atau net sell pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada penutupan perdagangan Senin (14/9/2026). Data Stockbit Sekuritas mencatat, pada akhir sesi, penjualan bersih mencapai Rp 14,73 miliar.
Perubahan sikap investor asing ini berbanding terbalik dengan pergerakan harga saham BBRI. Meskipun ada aksi jual dari investor asing, saham Bank Rakyat Indonesia justru ditutup melonjak 3,98% ke level Rp 3.400. Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya sempat diperdagangkan minus 0,92% pada akhir sesi I. Total transaksi saham BBRI kemarin mencapai Rp 922,34 miliar dengan volume 2,78 juta lot.
Di sisi lain, BRI diproyeksikan akan menormalisasi rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR) menjadi sekitar 70% untuk tahun buku 2026. Angka ini turun dari rasio 92% pada tahun buku 2025. Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, dalam risetnya menyebutkan bahwa dalam jangka panjang, DPR BRI diperkirakan berada di kisaran 50%-60%.
Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menambahkan bahwa BRI mulai menggeser prioritas penggunaan laba. Perusahaan kini lebih fokus pada penguatan modal untuk mendukung pertumbuhan, ketimbang membagikan dividen dalam jumlah besar. Jason memperkirakan DPR BBRI akan turun secara bertahap menuju 60% dari 92% pada tahun buku 2025.
Perubahan strategi ini perlu dilihat dalam konteks rencana BRI untuk kembali mendorong pertumbuhan kredit mikro. Strategi ini berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi perseroan untuk menahan laba dan mendanai ekspansi dari modal internal. Jason menjelaskan, bagi investor yang mengandalkan BBRI sebagai saham dengan imbal hasil dividen tinggi, perubahan ini dapat mengurangi pendapatan pasif dalam jangka pendek. Namun, strategi ini bertujuan untuk memberikan kapasitas modal yang lebih besar bagi ekspansi bisnis.
Victoria menilai prospek laba BBRI akan tetap ditopang oleh pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP), peningkatan efisiensi, serta bantalan modal yang kuat. Faktor-faktor ini dinilai dapat membantu menjaga ketahanan laba BRI, meskipun net interest margin (NIM) masih menghadapi tekanan jangka pendek.
Pada kuartal II-2026, laba bersih setelah pajak atau net profit after tax (NPAT) BBRI tercatat sebesar Rp 15,4 triliun. Angka ini turun 0,8% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq), namun naik signifikan 22% secara tahunan (year on year/yoy).
Secara kumulatif, NPAT BBRI pada semester I-2026 mencapai Rp 30,9 triliun, tumbuh 17,5% yoy. Realisasi ini setara dengan 52% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 53% dari estimasi konsensus tahun 2026. PPOP naik 12,7% yoy, sementara pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 9,9% menjadi Rp 80,5 triliun. NIM turun 10 basis poin menjadi 7,7%, namun masih berada dalam panduan 7,4%-7,8%.
Total kredit BBRI tumbuh 16,2% yoy dan 5,3% qoq mencapai Rp 1.645,5 triliun, melampaui panduan awal 7%-9%. Pertumbuhan kredit ini terutama ditopang oleh segmen korporasi dan komersial. Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan, dengan rasio kredit bermasalah bruto atau gross non-performing loan (NPL) sebesar 2,9%, sementara kredit berisiko atau loan at risk (LAR) turun menjadi 9,1%.
Dengan pertimbangan tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham BBRI dengan target harga Rp 4.050. Target harga ini mencerminkan price to book value (PBV) sebesar 1,9 kali untuk estimasi 2026 dan 1,8 kali untuk proyeksi 2027. MNC Sekuritas menilai pertumbuhan PPOP, efisiensi berkelanjutan, dan modal yang kuat menjadi penopang utama ketahanan laba BBRI. Namun, risiko terhadap proyeksi tetap berasal dari potensi perlambatan pertumbuhan kredit, pelemahan kondisi ekonomi makro, serta persaingan yang semakin ketat di segmen wholesale.
Ikuti DailyFX.ID
