— JAKARTA – Pemulihan penjualan otomotif membuka ruang penguatan bagi saham PT Astra International Tbk (ASII). Kinerja bisnis otomotif Astra mengalami peningkatan signifikan sepanjang delapan bulan pertama 2026, yang turut memperkuat prospek lini usaha terkait seperti pembiayaan dan layanan purnajual.

Penjualan mobil nasional pada periode Januari-Agustus 2026 tercatat mencapai sekitar 599.491 unit, menunjukkan pertumbuhan sebesar 20,1% secara tahunan. Astra International berhasil mempertahankan pangsa pasar sekitar 50% di tengah tren positif ini. Momentum pertumbuhan diperkirakan akan berlanjut hingga akhir tahun, didorong oleh peluncuran model-model baru dan kondisi pembiayaan yang stabil, meskipun persaingan pasar semakin ketat, khususnya dari merek asal China dan kendaraan listrik.

Perbaikan segmen otomotif menjadi krusial bagi ASII, terutama untuk menopang kinerja saat bisnis alat berat dan pertambangan masih menghadapi tekanan. Pada semester I-2026, laba bersih segmen otomotif Astra meningkat 9% menjadi Rp5,9 triliun, sementara bisnis komponen mencatat kenaikan laba sebesar 23%.

Jika tren penjualan terus berlanjut, ruang perbaikan kinerja ASII semakin terbuka. Namun, investor perlu tetap mencermati faktor-faktor seperti tekanan margin, daya beli masyarakat, suku bunga, nilai tukar, dan harga komoditas.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memandang positif prospek ASII. Ia menilai kenaikan penjualan otomotif berpotensi memberikan dampak positif terhadap fundamental perusahaan. “Rekomendasi accumulative buy ASII dengan target harga Rp5.925,” ujar Nafan.

Menurut Nafan, performa otomotif menjadi modal ASII untuk mempertahankan momentum hingga akhir 2026. Keunggulan Astra terletak pada posisi kuat Toyota dan Daihatsu, serta ekosistem pembiayaan dan layanan purnajual yang luas. Namun, ia mengingatkan investor untuk tetap mencermati daya beli, suku bunga, nilai tukar rupiah, dan persaingan harga.

Valuasi Menarik

Dari sisi valuasi, Nafan melihat ASII masih menarik. Pada harga penutupan Jumat (11/9/2026) di Rp4.910, ASII diperdagangkan dengan PER 6,6x dan PBV 0,68x, yang berada di bawah rata-rata historisnya. PBV ASII juga tercatat antara -2 standar deviasi dan -1 standar deviasi historis.

Selain itu, rencana aksi pembelian kembali saham (share buyback) hingga Rp8 triliun berpotensi menjadi penopang tambahan bagi harga saham dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengamati pergerakan ASII masih dalam tren penguatan. Saham ASII mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) dengan dukungan peningkatan volume pembelian. Indikator MACD masih berada di area positif, sementara Stochastic berpeluang menguat menuju area jenuh beli (overbought).

Herditya memperkirakan ASII akan bergerak pada rentang support Rp4.830 dan resistance Rp5.050. “Rekomendasi trading buy ASII dengan target harga Rp5.125-Rp5.200,” katanya.

Analis Indo Premier Sekuritas, Aurelia Barus dan Halima Yefany, mempertahankan rating Overweight untuk sektor otomotif dan menempatkan ASII sebagai pilihan utama (top pick). Hal ini didukung oleh perbaikan volume serta prospek positif pada UNTR, AALI, dan bisnis jasa keuangan.

“Meski volume turun secara bulanan pada Agustus 2026, penjualan masih tumbuh 3% year-on-year dibandingkan Agustus 2025. Dengan demikian, kami melihat masih terdapat peluang pemulihan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang,” tulis Aurelia dan Halima.

Modal Perbaikan Kinerja

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, melihat kenaikan penjualan mobil Astra pada delapan bulan 2026 sebagai katalis positif bagi segmen otomotif, pembiayaan, asuransi, hingga layanan purnajual ASII. Meskipun, dampaknya terhadap laba konsolidasi belum otomatis sebanding, karena pendapatan dan laba bersih ASII pada semester I-2026 masih turun masing-masing sekitar 3% dan 19%, terutama akibat tekanan bisnis pertambangan.

Menurut Elandry, tren otomotif dapat menjadi modal untuk memperbaiki kinerja ASII hingga akhir tahun. Namun, investor perlu mencermati penurunan pangsa pasar Astra menjadi sekitar 45% pada Agustus, kompetisi kendaraan listrik dari China, pergerakan harga komoditas, dan daya beli masyarakat. Diversifikasi bisnis membuat prospek ASII tidak hanya bergantung pada penjualan mobil.

Dari sisi teknikal, Elandry melihat ASII mulai memasuki fase rebound, tetapi masih membutuhkan penembusan resistance Rp5.000-Rp5.100 untuk mengonfirmasi penguatan lanjutan. Support berada di Rp4.800-Rp4.850 dan berikutnya Rp4.650. Selama bertahan di atas level tersebut, peluang menuju Rp5.300 masih terbuka.

Saham ASII juga masih relatif murah dengan PER sekitar 6-7 kali dan dividend yield yang menarik. Namun, discount valuasi tersebut juga mencerminkan penurunan laba serta tantangan struktural industri otomotif. Oleh karena itu, strategi akumulasi bertahap dinilai lebih tepat dibandingkan mengejar harga saat saham menguat.

“Rekomendasi accumulate atau buy on weakness ASII pada area Rp4.800-Rp4.950, dengan target awal Rp5.300 dan target berikutnya Rp5.500. Batas risiko apabila harga ditutup di bawah Rp4.650. Katalis utama berasal dari pemulihan penjualan otomotif, jasa keuangan, dan dividen, sedangkan risiko terbesar berasal dari pelemahan bisnis pertambangan serta persaingan kendaraan listrik,” pungkasnya.