DailyFX.ID — PT Bukit Asam Tbk (PTBA) diproyeksikan akan membukukan laba bersih sebesar Rp 5,93 triliun pada tahun 2026, menandai lonjakan signifikan sebesar 102,6% secara tahunan. Proyeksi ini didukung oleh pemulihan produksi batu bara pada paruh kedua tahun ini, kenaikan harga jual rata-rata, serta upaya efisiensi biaya operasional.
Analis KB Valbury Sekuritas, Adolf RB Setiadi, menyatakan bahwa kinerja PTBA pada kuartal II-2026 menunjukkan bahwa volume produksi yang lemah pada semester I-2026 lebih disebabkan oleh gangguan cuaca pada kuartal I-2026, bukan karena penurunan kapasitas operasional perusahaan.
“Produksi batu bara PTBA pada kuartal II melonjak 94% secara kuartalan menjadi 12,83 juta ton,” ungkap Adolf dalam risetnya, Selasa (15/9/2026).
Pendapatan PTBA pada kuartal II-2026 tercatat naik 21,8% secara kuartalan menjadi Rp 12,1 triliun. Laba bersih perusahaan juga melesat 130% secara kuartalan mencapai Rp 1,84 triliun.
Secara keseluruhan pada semester I-2026, pendapatan PTBA tumbuh 7,7% secara tahunan menjadi Rp 22,03 triliun. Laba bersih PTBA melonjak 218% secara tahunan menjadi Rp 2,65 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata gabungan sebesar 10,7% menjadi Rp 1,03 juta per ton.
Lebih lanjut, Adolf menjelaskan bahwa efisiensi operasional membaik setelah rasio pengupasan (*stripping ratio*) turun menjadi 5,26 kali dari sebelumnya 6,17 kali. Renegosiasi kontrak pengangkutan juga berhasil menekan biaya kas di luar royalti sebesar 5,1% secara tahunan menjadi US$ 47,25 per ton.
KB Valbury memperkirakan pendapatan Bukit Asam (PTBA) pada tahun 2026 akan mencapai Rp 51,7 triliun, tumbuh 21,2% secara tahunan.
Rekomendasi Saham PTBA dan Target Harga
KB Valbury Sekuritas kembali memulai cakupan terhadap saham PTBA dengan memberikan rekomendasi ‘buy’. Target harga yang ditetapkan adalah Rp 3.700 per saham, mengindikasikan potensi kenaikan harga sebesar 21,7% dari posisi harga saat berita ini ditayangkan.
Target harga ini ditetapkan berdasarkan metode arus kas terdiskonto (*discounted cash flow* / DCF). Angka tersebut mencerminkan *price to earnings ratio* (P/E) sebesar 7,2 kali untuk proyeksi tahun 2026 dan rasio EV/EBITDA mencapai 4,4 kali.
Daya tarik saham PTBA juga diperkuat oleh posisi kas bersih sekitar Rp 3,89 triliun. Selain itu, terdapat potensi *dividend yield* sebesar 12,5% pada tahun 2027, dengan asumsi *dividend payout ratio* sebesar 75%.
Risiko utama yang perlu diperhatikan meliputi potensi pelemahan harga batu bara, kenaikan biaya operasional, normalisasi *stripping ratio*, peningkatan *domestic market obligation* (DMO), serta kemungkinan keterlambatan dalam proyek dan kapasitas produksi.
Ikuti DailyFX.ID
