— JAKARTA – Investor asing kembali mencatatkan transaksi jual bersih atau net sell senilai Rp 355,1 miliar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (18/8/2026). Aksi jual ini terutama menyasar saham PT Indosat Tbk (ISAT), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Perincian data BEI menunjukkan, net sell terbesar oleh investor asing terjadi pada saham ISAT dengan nilai Rp 188,4 miliar. Posisi kedua ditempati saham BBRI yang dilepas senilai Rp 170 miliar. Selain itu, saham DSSA mencatat net sell asing Rp 165,6 miliar, disusul TPIA sebesar Rp 153,6 miliar.

Dengan tambahan transaksi tersebut, total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini telah mencapai Rp 73,2 triliun. Di sisi lain, transaksi beli bersih atau net buy terbanyak oleh investor asing pada hari yang sama terjadi pada saham PT Antam Tbk (ANTM) senilai Rp 69 miliar, diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net buy Rp 45 miliar.

Pergerakan saham asing ini terjadi bersamaan dengan penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang positif. IHSG berhasil menguat 47,9 poin atau 0,75% ke level 6.449,8. Total nilai transaksi tercatat mencapai Rp 14,7 triliun, dengan rincian 419 saham menguat, 248 saham melemah, dan 296 saham stagnan.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan bahwa sentimen domestik menjadi penopang utama penguatan IHSG. Pasar dinilai merespons positif Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 yang dinilai mencerminkan optimisme pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah ketidakpastian global.

Penguatan IHSG ini cukup kontras mengingat mayoritas bursa regional Asia bergerak melemah pada hari yang sama. Sentimen eksternal masih dipengaruhi oleh memudarnya harapan perdamaian di Timur Tengah serta perlambatan ekonomi China. Pilarmas menambahkan, kesepakatan gencatan senjata 60 hari antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir tanpa perpanjangan, sementara Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak tertarik untuk memperpanjangnya.

Sentimen negatif lain berasal dari China, di mana data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi mulai kehilangan momentum. Pertumbuhan penjualan ritel secara tahunan dilaporkan turun menjadi 0,6% dari sebelumnya 1%. Secara kumulatif Januari hingga Juli, pertumbuhannya juga tercatat turun menjadi 1,2% dari 1,3%.