— Manajer dana lindung nilai (hedge fund) asal Australia, Raphael Lamm, berpandangan bahwa penurunan harga emas yang terjadi belakangan ini hanya bersifat sementara.

Harga emas memang mengalami tekanan sejak mencapai rekor tertinggi pada Januari. Lonjakan harga energi dan spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve membebani logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Sejak konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari, harga emas dilaporkan turun sekitar 16%.

Meskipun demikian, Lamm mengaku optimis karena faktor-faktor utama yang mendukung reli emas dalam jangka panjang masih kuat.

“Ketidakberlanjutan situasi fiskal di pasar-pasar utama, khususnya utang pemerintah AS yang melampaui US$ 40 triliun serta peningkatan alokasi oleh bank sentral akan mendukung harga emas dalam jangka menengah hingga panjang,” ujar Lamm, yang mengelola L1 Gold Fund senilai US$ 1,1 miliar, dikutip dari Mining, Sabtu (26/9/2026).

Untuk jangka pendek, Lamm memproyeksikan pergerakan harga emas akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik AS-Iran, suku bunga riil, dan data inflasi.

“Meskipun ada beberapa hambatan bagi pasar dan harga emas sejak konflik pecah di Iran, kami berpendapat bahwa hal tersebut sifatnya sangat sementara. Sebagian besar faktor pendorong utama permintaan emas akan tetap kuat atau bahkan meningkat dalam jangka menengah,” Lamm menekankan.

Sebagai bagian dari L1 Group Ltd, L1 Gold Fund memanfaatkan penurunan harga emas untuk menambah posisi long (beli) pada saham-saham perusahaan emas. Sebagian besar portofolionya terdiri dari perusahaan dengan nilai pasar setidaknya US$ 5 miliar.

Untuk memitigasi risiko penurunan harga, L1 Gold Fund juga mengambil posisi short (jual) pada beberapa saham emas yang dinilai mahal atau menghadapi kendala operasional.

Sebelumnya, bank investasi ternama asal Amerika Serikat, Goldman Sachs, mempertahankan proyeksi optimis untuk harga emas pada akhir 2026. Goldman Sachs Research memperkirakan harga emas akan naik menjadi US$ 4.900 per troy ounce pada akhir tahun 2026, seiring dengan langkah bank sentral yang terus mendiversifikasi cadangan mereka.

Analis Goldman Sachs memandang permintaan dari bank sentral sebagai faktor struktural utama yang menopang reli harga emas.

“Kami terus melihat akumulasi emas yang tinggi oleh bank sentral sebagai tren jangka panjang, seiring langkah bank sentral mendiversifikasi cadangan mereka untuk memitigasi risiko geopolitik dan keuangan, yang sejalan dengan bukti dari survei terbaru,” ujar analis Goldman Sachs, Lina Thomas dan Daan Struyven dalam catatan mereka.