DailyFX.ID — Kemenangan Abdul El-Sayed dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi Senat di Michigan pada 4 Agustus 2026 menjadi sorotan, tidak hanya karena ia seorang Muslim keturunan Mesir, tetapi juga sebagai kandidat progresif pertama yang memenangi pemilihan pendahuluan tingkat negara bagian di wilayah yang sebelumnya dikuasai Donald Trump. Lebih signifikan lagi, hasil ini mengindikasikan pergeseran dalam Partai Demokrat dengan masuknya isu Gaza, Israel, dan perang Iran ke dalam perdebatan arah partai.
Meskipun kebijakan luar negeri memainkan peran, kemenangan El-Sayed tidak semata-mata disebabkan oleh isu tersebut. Kualitas kandidat, kemampuan mobilisasi, sentimen anti-kemapanan, isu pelayanan kesehatan, biaya hidup, serta besarnya belanja dari kelompok luar juga berkontribusi. El-Sayed aktif berkampanye dengan mengunjungi 110 kota, mengadakan lebih dari 500 kegiatan, dan membangun jaringan sekitar 12.000 sukarelawan. Kemenangannya atas Haley Stevens pun diraih dengan selisih kurang dari satu poin persentase.
Namun, hasil di Michigan menunjukkan perubahan yang lebih jelas, yaitu cara kebijakan luar negeri mulai memengaruhi politik domestik. Isu Gaza memberikan landasan moral bagi penolakan terhadap kebijakan lama, sementara perang Iran menyediakan mekanisme ekonomi yang membuat penolakan tersebut relevan bagi pemilih yang lebih luas.
Politik Identitas yang Lebih Luas
Latar belakang El-Sayed sebagai dokter, mantan pejabat kesehatan publik Detroit, Muslim, dan keturunan Mesir di negara bagian dengan komunitas Arab Amerika yang besar, memberikan daya tarik tersendiri. Identitas ini ia gabungkan dengan agenda pelayanan kesehatan universal, perumahan, pajak korporasi, dan pembatasan pengaruh donor besar.
Oleh karena itu, kemenangan El-Sayed bukan sekadar pilihan pemilih Muslim terhadap kandidat Muslim. Ia berhasil membangun koalisi yang lebih luas dengan menghubungkan persoalan Palestina dengan kritik terhadap kemapanan politik dan ekonomi.
Hubungan ini terlihat jelas dalam kampanye. Kelompok luar yang mendukung Stevens membelanjakan lebih dari US$60 juta, termasuk lebih dari US$30 juta dari AIPAC dan kelompok afiliasinya. El-Sayed memanfaatkan besarnya belanja ini sebagai bagian dari narasi “gerakan orang banyak melawan kekuatan uang”.
Dengan demikian, Israel bukan lagi hanya isu diplomatik, melainkan menjadi bagian dari pertanyaan yang lebih luas: siapa yang menentukan prioritas Partai Demokrat—pemilih atau kelompok donor?
Gaza sebagai Perubahan Moral
Kebijakan luar negeri sebelumnya juga pernah memengaruhi politik domestik Amerika, seperti yang terlihat pada Perang Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Kebaruan di Michigan bukan pada masuknya isu perang ke dalam politik, melainkan pada melemahnya konsensus lama mengenai Israel dari dalam Partai Demokrat.
Pada 2025, hanya 8% pemilih Demokrat yang menyetujui operasi militer Israel di Gaza. Survei Gallup pada Februari 2026 menunjukkan 65% pemilih Demokrat lebih bersimpati kepada Palestina dan hanya 17% kepada Israel. Di kalangan anak muda Amerika (18–34 tahun), perbandingannya adalah 53% untuk Palestina dan 23% untuk Israel.
Pergeseran ini menandakan bahwa posisi El-Sayed tidak lagi berada di pinggiran basis Demokrat, terutama di kalangan pemilih muda. Isu Gaza telah mengubah Israel dari sekadar isu aliansi strategis menjadi ukuran moral terkait hak asasi manusia, penggunaan senjata Amerika, dan konsistensi nilai-nilai Demokrat. Seorang kandidat kini dapat menolak bantuan militer tanpa syarat kepada Israel dan menjadikannya bagian penting dari identitas politiknya.
Perang Iran dan Risiko Ekonominya
Perang Iran memberikan dimensi berbeda pada perdebatan ini. Meskipun bukan satu-satunya penyebab inflasi Amerika, konflik tersebut memiliki kaitan yang lebih konkret dengan gangguan di Selat Hormuz dan dampaknya pada biaya domestik.
Setelah terganggunya ekspor minyak dan produk minyak bumi dari Timur Tengah, harga energi meningkat tajam. Pada 30 Maret, harga rata-rata bensin reguler di Amerika mencapai US$3,99 per galon. EIA memperkirakan harga bensin sempat mencapai rata-rata bulanan mendekati US$4,30 pada April.
Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi sekitar 20% konsumsi petroleum cair dunia dan seperempat perdagangan minyak laut, meskipun Amerika hanya mengimpor sebagian kecil kebutuhannya melalui jalur tersebut, tetap memengaruhi pembentukan harga minyak global. Gangguan di Hormuz berdampak pada kenaikan harga bahan bakar, biaya transportasi, dan tekanan harga di dalam negeri.
Di sinilah hubungan Gaza–Iran menjadi kuat dalam narasi politik. Gaza menyediakan argumen moral terhadap kebijakan Timur Tengah Amerika, sementara perang Iran dan gangguan Hormuz menambahkan dimensi ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat. Dalam politik, persepsi bahwa perang di luar negeri, kenaikan harga energi, dan penggunaan anggaran merupakan bagian dari pola prioritas yang keliru, sudah cukup untuk memengaruhi opini publik.
Apa yang Sebenarnya Berubah?
Kemenangan di Michigan belum membuktikan bahwa mayoritas rakyat Amerika menginginkan kebijakan luar negeri progresif. El-Sayed masih harus menghadapi Mike Rogers dari Partai Republik dalam pemilu November 2026, dan koalisi pemilihan pendahuluan belum tentu dapat diperluas kepada pemilih independen dan moderat.
Namun, perubahan penting telah terjadi dalam struktur perdebatan di Partai Demokrat. Sikap kritis terhadap Israel tidak lagi otomatis berada di luar arus utama. Perang Iran dibicarakan tidak hanya melalui perspektif keamanan nasional, tetapi juga melalui harga energi dan prioritas domestik. Dukungan donor pro-Israel pun tidak selalu menjadi aset; ia bisa digunakan lawan sebagai bukti dominasi kemapanan.
Pemilihan pendahuluan di Michigan bukan sekadar tanda melemahnya konsensus lama, melainkan menunjukkan munculnya kerangka politik baru. Biaya moral Gaza, risiko ekonomi dari gangguan energi di Hormuz, dan penolakan terhadap pengaruh donor kini dipersatukan dalam satu kritik terhadap arah kebijakan Amerika.
Kerangka ini mungkin belum menjadi kebijakan resmi Partai Demokrat, tetapi telah terbukti mampu memenangkan pemilihan pendahuluan tingkat negara bagian yang sangat kompetitif. Ujian selanjutnya adalah apakah narasi yang sama dapat bertahan dalam pemilu umum November dan muncul kembali di negara bagian kompetitif lainnya. Hal ini akan menentukan apakah Michigan hanyalah fenomena lokal atau benar-benar awal dari pergeseran arah politik luar negeri Partai Demokrat AS.
Ikuti DailyFX.ID
