DailyFX.ID — JAKARTA – Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi rentan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026. Pada penutupan perdagangan Selasa (11/8/2026), rupiah tercatat melemah 106 poin atau 0,60% ke level Rp 17.861 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp 17.860 – Rp 17.970 per dolar AS untuk perdagangan hari ini. Menurutnya, ada beberapa sentimen eksternal yang membebani rupiah.
Salah satunya adalah memudarnya harapan pembukaan jalur perlintasan energi global di Selat Hormuz. Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer terbaru. Kekhawatiran akan gangguan pasokan semakin menguat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada akhir pekan lalu.
Ibrahim menambahkan, ancaman kelompok Houthi untuk membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Iran dengan menyerang kapal serta infrastruktur minyak di Laut Merah, meningkatkan kecemasan akan gangguan pasokan. Situasi ini semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Rupiah juga diprediksi kembali tertekan menjelang rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat pada Rabu dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis. “Sehari setelah itu, pada hari Kamis, Indeks Harga Produsen (Producer Price Index) juga diproyeksikan akan melambat,” ungkap Ibrahim.
Sementara itu, CME FedWatch Tool menunjukkan pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 44% pada pertemuan September, turun dari 67% pada minggu sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakpastian kebijakan moneter AS.
Dari sisi domestik, rupiah diprediksi kembali jatuh ke zona merah saat pasar mencermati agenda tinjauan MSCI yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026. Pasar juga merespons negatif setelah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun.
IKK pada Juli 2026 tercatat 116,8, turun dari 117,8 pada Juni 2026. Angka IKK Juli 2026 ini merupakan yang terendah sejak September 2025 (115). Di sisi lain, data penjualan eceran yang dirilis oleh Bank Indonesia menunjukkan peningkatan sebesar 0,7% secara bulanan (Month-on-Month) pada Juni 2026. Angka ini mengakhiri tren kontraksi pada dua bulan sebelumnya, yaitu April 2026 (-11,6%) dan Mei 2026 (-1,5%). Perbaikan penjualan eceran tersebut dipengaruhi oleh siklus musiman yang terjadi setiap Juni.
Ikuti DailyFX.ID
