DailyFX.ID — Ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang dihadapi The Fed dalam menekan inflasi tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi justru dinilai menjadi berkah bagi harga emas. Situasi ini mendorong investor untuk mencari aset pelindung nilai seperti emas dan perak.
Harga emas pada Kamis (17/9/2026) tercatat naik 0,15% ke level US$ 4.270,35 saat berita ditulis. Managing Partner CPM Group Jeffrey Christian mengatakan, tantangan The Fed dalam menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja justru memperkuat alasan investor untuk memiliki logam mulia.
“Dalam jangka panjang, fakta bahwa The Fed menghadapi situasi yang sangat sulit untuk melawan inflasi sekaligus membantu kesehatan ekonomi dan kondisi ketenagakerjaan justru positif,” kata Christian dikutip dari Mining.com.
Menurut dia, situasi tersebut memperkuat kekhawatiran terhadap berbagai risiko yang dihadapi ekonomi. Ketidakpastian dan kecemasan akibat risiko tersebut kemudian dapat mendorong investor mengalokasikan lebih banyak dana ke emas dan perak.
“Ketidakpastian dan kecemasan yang ditimbulkan oleh risiko-risiko tersebut membuat investor berpikir, saya seharusnya menempatkan lebih banyak uang saya di emas dan perak,” ujarnya.
Christian menilai daya tarik emas tidak hanya berkaitan dengan kebijakan moneter The Fed. Investor juga menghadapi potensi gangguan politik, ekonomi, keuangan, hingga sosial yang dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Harga Emas Menuju US$ 5.000
Christian melihat sejumlah risiko di pasar keuangan, termasuk tingginya valuasi saham dan perkembangan perusahaan berbasis teknologi yang relatif baru, dapat menambah ketidakpastian bagi investor. “Banyak hal yang bisa salah secara politik, ekonomi, keuangan, dan sosial,” kata Christian.
Dengan kondisi tersebut, Christian optimistis harga emas masih memiliki ruang untuk naik dalam beberapa bulan ke depan. Menurut dia, emas berpeluang menguji level US$ 5.000 per ons troi dalam empat bulan mendatang, bahkan berpotensi menembus level psikologis tersebut.
“Menguji US$ 5.000 per ons troi sangat mungkin terjadi dalam empat bulan ke depan, dan kemungkinan menembus US$ 5.000 per ons troi juga merupakan sesuatu yang nyata,” ujarnya.
Meski prospek emas masih positif, perilaku investor saat ini tidak sepenuhnya seragam. Christian melihat ada investor tradisional yang membeli emas dan perak untuk jangka panjang karena mencemaskan kondisi ekonomi dan politik.
Namun, di sisi lain, terdapat investor jangka pendek yang lebih oportunistis dan memilih menjual ketika harga naik. “Banyak investor tradisional membeli emas dan perak untuk jangka panjang karena khawatir terhadap lingkungan ekonomi dan politik dalam jangka panjang. Namun, ada investor lain yang lebih berorientasi jangka pendek dan oportunistis, yang menjual ketika harga naik,” kata Christian.
Ikuti DailyFX.ID
