DailyFX.ID — Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan hampir 4% pada perdagangan Rabu (23/9/2026), dipicu oleh memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menegaskan Teheran tidak akan menyerah kepada AS kembali membuat pasar mencermati potensi risiko gangguan pasokan energi global.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman November ditutup naik US$ 3,83 atau 3,86% menjadi US$ 103,08 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,64 atau 1,81% ke level US$ 92,16 per barel.
Pergerakan harga ini terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras terhadap Iran. Di sisi lain, Pezeshkian dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah, meskipun tetap membuka peluang untuk diplomasi.
Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa Teheran masih meninjau respons AS terhadap proposal yang diajukan untuk mengakhiri permusuhan. Namun, masih terdapat sejumlah perbedaan signifikan antara kedua negara.
Salah satu isu krusial yang dibahas dalam perundingan tidak langsung pada Selasa adalah kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz serta pencabutan blokade laut yang diberlakukan AS terhadap Iran. Pejabat senior Iran lainnya menambahkan bahwa Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu tujuh hari jika AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Kenaikan harga minyak ini terjadi setelah sebelumnya pasar sempat mendapatkan sentimen positif dari membaiknya pasokan minyak dari Timur Tengah. Arab Saudi telah kembali mengoperasikan East-West Pipeline yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur ini krusial karena digunakan untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari, atau sekitar 4% dari pasokan global.
Pasokan Minyak Naik
Selain itu, Arab Saudi juga menawarkan lebih banyak minyak kepada kilang-kilang di Asia dari lokasi yang tidak melewati Selat Hormuz. Irak pun melaporkan bahwa ekspor minyaknya telah mencapai lebih dari 3 juta barel per hari dan berencana meningkatkan ekspor melalui Turki menjadi lebih dari 600.000 barel per hari.
Perkembangan positif pasokan ini sebelumnya sempat menekan harga minyak. Pada Selasa, Brent bahkan sempat menyentuh US$ 97,36 per barel, level terendah sejak 8 September. Namun, ketegangan terbaru antara Washington dan Teheran kembali mengangkat premi risiko di pasar energi.
Di AS, persediaan minyak mentah juga terpantau meningkat. Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS naik 3 juta barel menjadi 426,4 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September. Angka ini berbanding terbalik dengan perkiraan analis yang disurvei Reuters sebelumnya yang memprediksi stok justru turun 641.000 barel.
Sementara itu, kontrak diesel ultra-low-sulfur turun sekitar 5% setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Trump sedang menyiapkan rencana larangan ekspor diesel selama 90 hari. Namun, Gedung Putih kemudian membantah laporan tersebut. Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya telah menyatakan bahwa larangan ekspor diesel tidak akan efektif mengatasi harga energi yang tinggi dan justru berisiko mengganggu pasokan global.
Ikuti DailyFX.ID
