— JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) membukukan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sebesar 28% secara tahunan (yoy) pada kuartal II-2026, mencapai Rp 6,3 triliun. Kinerja positif ini mendorong Kiwoom Sekuritas untuk merevisi target harga saham TLKM.

Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menjelaskan bahwa akselerasi laba Telkom ditopang oleh penurunan biaya keuangan dan penguatan operating leverage. Kemampuan perusahaan meningkatkan laba seiring pertumbuhan pendapatan dengan struktur biaya yang lebih efisien menjadi kunci utama.

Pada kuartal II-2026, pendapatan TLKM tercatat sebesar Rp 38,7 triliun, naik 6% yoy dan 4% secara kuartalan (qoq). Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 11% secara yoy maupun qoq, mencapai Rp 19,5 triliun.

Sepanjang semester I-2026, pendapatan TLKM tumbuh 4% yoy menjadi Rp 75,9 triliun. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen data, internet, dan layanan teknologi informasi (TI) yang mencatat peningkatan 13%. Kinerja ini berhasil mengimbangi penurunan pendapatan dari segmen lain seperti IndiHome yang turun 3%, layanan pesan singkat (SMS) serta layanan suara dan seluler sebesar 29%, interkoneksi 10%, dan layanan jaringan serta telekomunikasi lainnya 6%.

Meskipun jumlah pelanggan seluler mengalami penurunan 3,1% menjadi 153,5 juta, rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) seluler justru mengalami kenaikan 9,1% menjadi Rp 45.000. Sukarno menilai peningkatan ARPU ini menunjukkan kemampuan monetisasi pelanggan yang membaik.

Sementara itu, jumlah pelanggan IndiHome segmen business to consumer (B2C) turun 5,4% menjadi 9,5 juta pelanggan. Pada semester I-2026, EBITDA TLKM naik 3% menjadi Rp 37,1 triliun, dengan margin 48,8% dibandingkan periode sebelumnya 49,4%. Laba bersih TLKM tumbuh 3% menjadi Rp 10,6 triliun.

Telkom juga berencana mengalihkan bisnis konektivitas serat optik grosir tahap kedua atau Wholesale Fiber Connectivity Phase 2 senilai Rp 49,86 triliun kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau Infranexia melalui transaksi non-tunai. Nilai transaksi ini setara dengan 33% dari ekuitas TLKM tahun buku 2025, dengan TLKM tetap mempertahankan kepemilikan saham sebesar 99,9% di TIF.

Kiwoom Sekuritas menilai dampak transaksi ini terhadap fundamental konsolidasian TLKM dalam jangka pendek cenderung netral, karena aset dan laba masih berada di dalam grup melalui konsolidasi TIF. Namun, secara strategis, transaksi ini dinilai positif karena memperkuat fokus perusahaan infrastruktur (infraCo), meningkatkan efisiensi pengelolaan aset serat optik, serta membuka peluang monetisasi aset di masa mendatang. Langkah ini juga mendukung transformasi TLKM menuju strategic holding.

Rekomendasi dan Target Harga Saham TLKM

Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TLKM, namun merevisi target harga menjadi Rp 3.450 dari sebelumnya Rp 3.630. Target harga saham TLKM menggunakan kombinasi metode EV/EBITDA serta discounted cash flow (DCF), yang merupakan valuasi berdasarkan nilai kini dari proyeksi arus kas masa depan.

Target harga Rp 3.450 mengimplikasikan proyeksi price to earnings ratio (P/E) sebesar 18,8 kali, EV/EBITDA 4,8 kali, serta rasio price to book value (PBV) 2,1 kali. Saat ini, saham TLKM diperdagangkan pada estimasi P/E sebesar 14,2 kali dibandingkan rata-rata perusahaan sejenis 12,5 kali. PBV TLKM berada di 1,59 kali, sedangkan rata-rata perusahaan sejenis 1,95 kali.

Kiwoom Sekuritas mencatat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, antara lain potensi tekanan terhadap ARPU, persaingan bisnis seluler yang semakin ketat, peningkatan belanja modal (capital expenditure/capex) Telkom, serta monetisasi pusat data dan infrastruktur digital yang lebih lambat dari perkiraan. Risiko lainnya mencakup kendala pelaksanaan strategi dan intervensi regulasi.