DailyFX.ID — Indonesia sebagai negara agraris memiliki sektor pertanian yang fundamental dan tidak akan pernah mati. Untuk memastikan keberlanjutan pembangunan dan pengembangannya, penguatan kolaborasi lintas sektor menjadi krusial demi mewujudkan kedaulatan pangan nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo AA Teguh Sambodo menegaskan bahwa sektor pertanian memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. “Dari perspektif pembangunan nasional, negara kita itu negara agraris dan pertanian tidak akan pernah mati,” ujarnya.
Pertanian bukan sekadar penyedia pangan, melainkan memiliki keterkaitan erat dengan perekonomian, pembangunan wilayah, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat. “Untuk itu, penguatan sektor pertanian butuh ekosistem yang mampu menjaga produktivitas sekaligus memastikan generasi petani dapat terus melihat pertanian sebagai sektor yang punya masa depan,” tambah Teguh.
Pernyataan tersebut disampaikan Teguh dalam Indonesia Petani MAJU Summit 2026 yang diselenggarakan oleh Syngenta Indonesia di Jakarta pada Selasa (22/09/2026). Forum bertema Sinergi Kebijakan, Riset, dan Inovasi Demi Mendukung Kedaulatan Pangan ini bertujuan mempertemukan pemerintah, legislator, peneliti, industri, dan petani.
Mewujudkan kedaulatan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani memerlukan kolaborasi lintas sektor yang mampu mensinergikan kebijakan, riset, inovasi, serta kebutuhan petani di lapangan. Semangat ini menjadi landasan forum yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi kemajuan pertanian Indonesia.
Indonesia Petani MAJU Summit berfungsi sebagai platform dialog lintas sektor untuk membahas bagaimana kebijakan, riset, inovasi, dan kolaborasi dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi petani sekaligus mendukung agenda pangan nasional.
Forum tersebut menghadirkan berbagai perspektif dari Duta Besar Swiss untuk Indonesia Konstantin Obolensky, anggota Komisi IV DPR Endang Setyawati Thohari, Deputi Bappenas Teguh Sambodo, Direktur Perbenihan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Ladiyani Retno Widowati, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari, Principle Scientist IRRI Inez Slamet-Loedin, dan perwakilan petani H Sardi.
Keberagaman perspektif ini menunjukkan bahwa kemajuan pertanian tidak dapat dicapai oleh satu sektor saja. Kebijakan membutuhkan landasan penelitian, penelitian perlu diterjemahkan menjadi inovasi yang dapat diterapkan, dan inovasi harus menjawab kebutuhan serta memberikan manfaat nyata bagi petani. Para narasumber sepakat bahwa ekosistem inovasi dan keberlanjutan perlu terus didorong.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia Konstantin Obolensky dalam pidatonya menekankan pentingnya dukungan terhadap inisiatif yang membantu industri lokal mengembangkan inovasi dan mendorong praktik berkelanjutan. “Bagi sektor pertanian, inovasi tidak hanya berkaitan dengan teknologi baru, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan praktik pertanian,” jelasnya.
Anggota Komisi IV DPR Endang Setyawati Thohari menyoroti peran parlemen dalam memastikan efektivitas kebijakan pangan dan pertanian melalui fungsi legislasi, penganggaran, pengawasan, serta monitoring. Ia menegaskan bahwa penelitian dan inovasi harus menjadi fondasi dalam penyusunan kebijakan, serta pentingnya membangun jembatan antara riset dengan kebutuhan sektor pertanian agar dampaknya terukur bagi petani.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia Eryanto menyatakan bahwa tantangan pangan ke depan semakin kompleks dan membutuhkan pendekatan kolaboratif. Syngenta percaya inovasi harus dimulai dari petani dan berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan. “Ketika kita memahami kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi, kita dapat bersama-sama mendorong riset, teknologi, dan inovasi yang lebih relevan dan dapat memberikan dampak nyata. Karena kemajuan pertanian pada akhirnya harus berjalan bersama dengan kemajuan petaninya,” paparnya.
Eryanto menambahkan, selama 60 tahun, Syngenta Indonesia telah mendampingi petani. “Dari generasi ke generasi, kami melihat bagaimana tantangan pertanian terus berubah, dan bagaimana petani terus beradaptasi serta berinovasi. Kami akan terus bersama Petani MAJU, satu hati, demi kemajuan negeri. Bagi kami, 60 tahun bersama petani, saatnya terus melangkah bersama,” katanya.
Pendekatan yang berpusat pada petani atau farmer-centric menjadi benang merah dalam semangat Petani MAJU. Syngenta memandang petani sebagai bagian penting dalam proses memahami tantangan, mengembangkan solusi, dan mendorong perubahan di lapangan, sehingga petani dapat bertani tanpa beban.
Syngenta Indonesia menggelar Festival Padi Petani MAJU 2026 selama tiga hari, yang merupakan bagian dari rangkaian acara Indonesia Petani MAJU Summit 2026. Festival ini mengangkat berbagai dimensi kemajuan pertanian padi melalui empat pilar Petani MAJU: Maximize Profitability (memaksimalkan keuntungan petani), Accelerate Innovation (mempercepat inovasi), Joint Effort in Sustainability (upaya bersama dalam keberlanjutan), dan United One Team (bersatu sebagai satu tim).
Eryanto menjelaskan, rangkaian kegiatan ini dirancang untuk membawa percakapan mengenai pertanian dari tingkat kebijakan dan strategi menuju inovasi, praktik di lapangan, keberlanjutan, serta kolaborasi untuk petani. Melalui festival ini, Syngenta Indonesia menegaskan perannya sebagai mitra industri yang menghubungkan inovasi dengan kebutuhan petani dan membangun kolaborasi untuk mendukung kemajuan sektor pertanian.
Pembangunan kedaulatan pangan tidak hanya tentang menghasilkan pangan yang cukup, tetapi juga memastikan petani sebagai bagian penting dari sistem pangan memiliki akses terhadap pengetahuan, teknologi, inovasi, dan ekosistem yang memungkinkan mereka tumbuh secara berkelanjutan.
Ikuti DailyFX.ID
