DailyFX.ID — PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 4,7 triliun hingga Juli 2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 13,17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Namun, jika dilihat secara bulanan (month on month/mtm), laba bersih pada bulan Juli saja tercatat Rp 543,00 miliar, mengalami penurunan 28,71%.
Berdasarkan laporan keuangan BSI yang dirilis pada Selasa (25/8/2026), kinerja keuangan perseroan secara umum tetap terjaga positif. Hal ini didukung oleh penyaluran pembiayaan dan penghimpunan dana yang terus meningkat pesat, serta indikasi risiko yang tetap terkendali. Meskipun demikian, rasio net imbalan (NI) dilaporkan agak di bawah sasaran yang ditetapkan bank, terlepas dari pertumbuhan hasil yang tinggi.
Total pembiayaan yang disalurkan BSI terus menunjukkan pertumbuhan agresif sebesar 16,09% yoy, mencapai Rp 342,4 triliun. Seluruh segmen pembiayaan, termasuk piutang dan bagi hasil, mengalami peningkatan. Namun, terjadi penurunan pada sewa pembiayaan secara bulanan maupun tahunan.
Pendapatan dari penyaluran dana tercatat sebesar Rp 17,74 triliun atau tumbuh 6,91% yoy. Sementara itu, pos bagi hasil untuk pemilik dana mengalami penurunan 3,67% yoy menjadi Rp 5,18 triliun. Akibatnya, pendapatan setelah distribusi hasil yang dibukukan tumbuh 11,98% yoy menjadi Rp 12,56 triliun pada periode tujuh bulan pertama tahun 2026 (7M26).
Meskipun imbal hasil atas bisnis intermediasi menunjukkan tren positif, indikator net imbalan (NI) justru menunjukkan perlambatan. NI tercatat sebesar 4,98% pada 7M26 dan 4,56% hanya pada bulan Juli. Angka ini melambat dari periode sebelumnya dan menjauh dari target bank yang ditetapkan di atas 5,5% untuk target tahun fiskal 2026 (FY26).
Di sisi lain, risiko pembiayaan berhasil dijaga dengan baik. Beban provisi mengalami penurunan sebesar 18,62% yoy menjadi Rp 1,24 triliun, meskipun terdapat indikasi efek basis tinggi pada periode sebelumnya. Dengan demikian, rasio biaya pembiayaan (cost of financing) juga tetap terjaga rendah di level 0,65%, berada di bawah pedoman (guidance) bank sebesar di bawah 0,85% untuk FY26.
Laba bersih emiten dengan kode saham BRIS ini turut ditopang oleh peningkatan pendapatan komisi atau fee sebesar 18,60% yoy, yang hampir mencapai Rp 2 triliun hingga Juli 2026.
Dalam hal penghimpunan dana, BSI mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 18,63% yoy, mencapai Rp 388,77 triliun. Meskipun sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya, angka ini masih merupakan salah satu pertumbuhan tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
Jika dilihat dari komposisinya, giro tumbuh 26,75% yoy menjadi Rp 73,18 triliun, tabungan meningkat 19,96% yoy menjadi Rp 170,74 triliun, dan deposito naik 13,48% yoy menjadi Rp 144,84 triliun. Bank menunjukkan tren yang lebih aktif dalam menghimpun deposito seiring dengan pengetatan likuiditas makroekonomi, sambil tetap gencar mengumpulkan dana murah.
Struktur pendanaan ini menghasilkan pertumbuhan dana murah yang kuat sebesar 21,92% yoy menjadi Rp 243,92 triliun. Hal ini mendorong rasio dana murah (Current Account Savings Account/CASA) menjadi sebesar 62,74% per Juli 2026.
Likuiditas bank menunjukkan tren pengetatan, tercermin dari posisi financing to deposit ratio (FDR) sebesar 88,07% per Juli, yang lebih tinggi dari posisi bulan sebelumnya sebesar 86,31%.
Dari sisi profitabilitas, return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing tercatat sebesar 1,78% dan 15,62% untuk periode 7M26.
Ikuti DailyFX.ID
