DailyFX.ID — JAKARTA – Permintaan investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) pekan depan diperkirakan tetap solid. Proyeksi ini didukung oleh potensi nilai incoming bids yang bisa mencapai Rp 55 triliun hingga Rp 70 triliun, meskipun yield US Treasury tenor 10 tahun kini mendekati level 5% dan arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) masih diliputi ketidakpastian.
Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai proyeksi tersebut tidak jauh berbeda dari capaian lelang sebelumnya. “Peluang lelang SUN pekan depan untuk tetap mendapat permintaan yang kuat masih terbuka. Lelang 1 September lalu mencatat incoming bids sekitar Rp 66 triliun dengan serapan pemerintah Rp 34 triliun, jadi secara umum permintaan belum menunjukkan pelemahan yang signifikan,” ujarnya.
Meskipun demikian, Yusuf menilai kondisi pasar obligasi saat ini lebih menantang dibandingkan awal tahun. Investor tidak hanya memperhitungkan tingkat kupon yang ditawarkan pemerintah, tetapi juga perkembangan yield obligasi global, kondisi likuiditas domestik, serta pergerakan nilai tukar rupiah.
Tekanan terbesar datang dari pasar obligasi Amerika Serikat. Kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 5% membuat investor memiliki alternatif instrumen berdenominasi dolar dengan tingkat imbal hasil yang semakin menarik. Hal ini berpotensi meningkatkan premi risiko yang diminta investor ketika menempatkan dana pada SUN.
“Tekanan utamanya datang dari kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang mendekati 5% dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Karena itu, minat investor terhadap SUN tidak lagi hanya ditentukan oleh kupon, tetapi juga oleh kondisi likuiditas domestik dan pergerakan rupiah,” jelas Yusuf.
Menurut Yusuf, selama likuiditas perbankan dan investor institusi domestik masih relatif longgar, tekanan dari pasar global masih dapat diredam. Ia memperkirakan incoming bids pada lelang mendatang masih berpotensi mencapai Rp 55 triliun-Rp 70 triliun apabila rupiah bertahan di kisaran Rp 17.500-Rp 17.650 per dolar AS dan pemerintah tidak memaksakan penyerapan pada tingkat yield yang terlalu mahal.
Di tengah potensi tekanan dari investor global, struktur kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) saat ini memberikan bantalan bagi pasar domestik. Porsi kepemilikan asing sudah jauh lebih rendah dibandingkan periode ketika investor nonresiden menguasai lebih dari 30% SBN.
“Investor domestik kemungkinan tetap menjadi penopang utama lelang. Porsi asing di SBN sekarang relatif terbatas dibanding periode ketika kepemilikan nonresiden mencapai lebih dari 30%,” ungkap Yusuf.
Perbankan, perusahaan asuransi, dana pensiun, institusi negara, hingga investor ritel kini menjadi sumber permintaan yang lebih penting dalam menyerap penerbitan surat utang pemerintah. Kondisi tersebut membuat risiko lelang SUN tidak terserap relatif kecil, meski konsekuensinya pemerintah belum tentu dapat memperoleh yield serendah yang diinginkan apabila investor domestik juga mulai meminta premi lebih besar akibat meningkatnya risiko pasar.
Struktur ini menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga penyerapan SUN meskipun kondisi pasar global lebih volatil. Namun demikian, pemerintah perlu menjaga disiplin dalam menentukan batas yield yang bersedia dibayar.
Apabila terlalu agresif mengejar target penerbitan dengan menerima yield tinggi, biaya utang dapat meningkat. Sebaliknya, apabila pemerintah terlalu ketat menahan yield , risiko incoming bids turun dan sebagian kebutuhan pembiayaan tidak terserap dalam lelang.
Yusuf memperkirakan bid-to-cover ratio pada lelang pekan depan berada di kisaran 1,6-2,1 kali, dengan potensi serapan pemerintah sekitar Rp 30 triliun-Rp 36 triliun. Dengan proyeksi tersebut, lelang SUN pekan depan kemungkinan belum menjadi ujian besar dari sisi kemampuan pemerintah memperoleh pembiayaan, karena incoming bids yang diperkirakan mencapai Rp 55 triliun-Rp 70 triliun menunjukkan investor domestik masih memiliki kapasitas menyerap penerbitan pemerintah.
Ikuti DailyFX.ID
