— JAKARTA – Yield Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan meningkat hingga akhir September 2026. Proyeksi ini didasarkan pada kenaikan yield US Treasury yang mendekati 5% dan sikap Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih penuh ketidakpastian.

Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memperkirakan yield SUN tenor 5 tahun pada lelang pekan depan akan berada di kisaran 6,95%-7,10%. Sementara itu, yield tenor 10 tahun diproyeksikan berada pada rentang 7,10%-7,30%. Perkiraan ini mengacu pada pergerakan di pasar sekunder, di mana yield SUN tenor 5 tahun telah menyentuh sekitar 6,98% dan tenor 10 tahun di kisaran 7,14%.

“Dari sisi yield, pemerintah kemungkinan harus menawarkan imbal hasil sedikit lebih tinggi, khususnya untuk tenor menengah dan panjang. Di pasar sekunder, yield 5 tahun sudah sekitar 6,98% dan 10 tahun sekitar 7,14%. Artinya, investor memang mulai meminta premi yang lebih besar,” kata Yusuf kepada Investor Daily, Minggu (13/9/2026).

Tingkat yield di pasar sekunder ini menjadi krusial karena memberikan indikasi mengenai imbal hasil yang kemungkinan akan diminta investor dalam lelang primer. Dengan yield pasar sekunder yang meningkat, pemerintah dituntut untuk menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup kompetitif agar lelang tetap menarik.

Terdapat peluang yield hasil lelang berada di atas atau mendekati level pasar sekunder saat ini, terutama jika sentimen global kembali memburuk menjelang lelang. Selain faktor domestik, arah kebijakan The Fed menjadi salah satu penentu utama pergerakan yield SUN dalam jangka pendek.

Kenaikan yield US Treasury hingga mendekati 5% turut meningkatkan benchmark yield bagi aset-aset berisiko di pasar global. Jika imbal hasil Treasury tetap tinggi, investor cenderung akan meminta spread yang lebih besar ketika berinvestasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Jika The Fed mengambil sikap lebih hawkish dan Treasury bertahan di sekitar 4,9% sampai 5%, yield SUN 5 dan 10 tahun berpotensi naik sekitar 5 sampai 15 basis poin dari level pasar sekunder sebelumnya,” jelas Yusuf.

Sebaliknya, jika komunikasi The Fed lebih netral dan pasar melihat tekanan kenaikan suku bunga AS mulai mereda, tekanan terhadap pasar SUN diperkirakan akan lebih terbatas. Pergerakan yield Treasury juga akan memengaruhi nilai tukar rupiah.

Ketika yield aset AS meningkat, dolar AS berpotensi semakin menarik bagi investor global sehingga meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi penting karena pelemahan rupiah dapat meningkatkan premi risiko yang diminta investor dalam membeli Surat Berharga Negara (SBN).

Yusuf memperkirakan ruang stabilitas pasar SUN masih terbuka selama rupiah tidak melemah secara signifikan dan yield Treasury tidak menetap jauh di atas 5%. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa rupiah tetap berada di bawah level Rp17.800 per dolar AS dan yield Treasury tenor 10 tahun tidak bertahan jauh di atas 5%.

“Selama rupiah tidak melemah menembus Rp17.800 dan Treasury tidak menetap jauh di atas 5%, saya melihat yield SUN masih cenderung bergerak sideways dengan bias sedikit naik,” kata Yusuf.

Meskipun yield berpotensi naik, Yusuf menilai kenaikan tersebut dalam satu kali lelang belum otomatis menjadi persoalan besar bagi keuangan negara. Beban bunga dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak ditentukan oleh satu kali penerbitan, melainkan oleh rata-rata yield penerbitan sepanjang tahun.

“Saya tidak melihat ini sebagai lonjakan biaya utang yang langsung signifikan karena beban bunga APBN lebih dipengaruhi oleh rata-rata yield penerbitan sepanjang tahun, bukan satu kali lelang. Yang perlu diperhatikan justru kalau kenaikan yield berlangsung terus sampai akhir kuartal,” ujarnya.

Sebagai catatan, Yusuf memperkirakan incoming bids pada lelang SUN pekan depan masih berpotensi mencapai Rp 55 triliun-Rp 70 triliun, dengan bid-to-cover ratio di kisaran 1,6-2,1 kali dan potensi serapan pemerintah sekitar Rp 30 triliun-Rp 36 triliun. Ke depan, arah kebijakan The Fed serta pergerakan yield Treasury dan rupiah akan menjadi variabel utama yang menentukan apakah tren kenaikan yield SUN berlanjut hingga akhir kuartal ini.