— Para pelaku pasar berjangka semakin gencar memprediksi bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), akan kembali menaikkan suku bunga acuannya. Proyeksi ini mencakup periode akhir tahun ini hingga awal 2027, dengan pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 75% untuk kenaikan suku bunga jangka pendek pada Desember 2026.

Kepastian mengenai jadwal pengetatan moneter ini diperkirakan akan semakin jelas setelah Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menyampaikan pidato utamanya di simposium Jackson Hole. Di tengah potensi pengetatan kebijakan moneter ini, data historis Barclays menunjukkan bahwa beberapa sektor industri justru mampu bertahan dan mencatatkan kinerja unggul.

Sektor Energi dan Komoditas (Materials)

Sektor energi terbukti menjadi yang paling tangguh dalam menghadapi fase akhir siklus ekonomi. Reksa dana State Street Energy Select Sector SPDR ETF tercatat telah melesat lebih dari 40% tahun ini, didorong oleh kenaikan signifikan pada saham-saham utamanya seperti ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips. Di saat yang sama, sektor material turut mendapatkan angin segar dari lonjakan harga komoditas global. Saham perusahaan tambang tembaga Freeport-McMoRan naik lebih dari 50% tahun ini hingga menyentuh rekor tertinggi baru.

“Sektor material mulai mengalami momentum penguatan baru. Pasar komoditas masih berada dalam tren bullish, dikonfirmasi oleh pergerakan harga yang positif pada logam, pertanian, dan sumber daya alam,” ungkap Chief Market Technician di Roth JC O’Hara.

Sektor Teknologi

Ed Yardeni dari Yardeni Research menilai koreksi pada saham teknologi saat ini merupakan bentuk reaksi berlebihan pasar terhadap kenaikan imbal hasil obligasi. Ia mencatat, sektor semikonduktor seperti Micron, Marvell Technology, dan SK Hynix saat ini ditransaksikan pada rasio price-to-earnings (P/E) yang lebih rendah daripada indeks S&P 500. Sektor teknologi secara luas hanya ditransaksikan 21 kali dari estimasi laba, padahal tingkat pertumbuhan labanya diperkirakan mencapai 42%.

Kim Gailun dari Wellington Management menambahkan, kinerja sektor teknologi saat ini menjanjikan karena tidak lagi hanya bergantung pada kelompok raksasa Magnificent Seven seperti Microsoft, melainkan terdistribusi ke emiten yang lebih bervariasi.

Sektor Kesehatan (Healthcare)

Sektor kesehatan hadir sebagai kartu AS (wild card). Barclays memperkirakan sektor yang sudah naik 13% tahun ini berpotensi mengalami koreksi karena sifatnya yang defensif dan berorientasi dividen. Namun, Yardeni justru optimistis dan menyarankan strategi overweight pada sektor kesehatan.

Valuasinya dinilai sangat menarik (hanya 19 kali estimasi laba) dengan margin yang terus membaik. Katalis positif juga datang dari hasil uji klinis vaksin kanker oleh Moderna dan Merck. Inovasi pengembangan obat baru ini mengubah peran saham farmasi di dalam portofolio, dari yang semula bertahan (defense) menjadi menyerang (offense).

Sektor yang Perlu Dihindari

Investor disarankan untuk membatasi porsi pada sektor yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga, seperti perbankan dan konsumer diskresioner. Sektor bond proxies atau pengganti obligasi seperti utilitas, real estat, dan konsumer primer juga berisiko tertekan. Walaupun sektor-sektor ini dikenal rutin membagikan dividen besar, daya tarik imbal hasilnya menjadi kurang bersaing ketika imbal hasil obligasi pemerintah meningkat akibat suku bunga yang lebih tinggi.

Kebijakan suku bunga The Fed merupakan salah satu kompas utama yang menentukan arah arus modal di pasar keuangan global. Ketika The Fed menaikkan suku bunga acuan untuk meredam inflasi atau menanggapi pertumbuhan ekonomi yang terlalu pesat, biaya pinjaman (cost of borrowing) bagi korporasi dan konsumen secara otomatis akan meningkat. Kondisi pengetatan finansial ini berdampak langsung pada cara investor menilai valuasi sebuah perusahaan. Sektor defensif tradisional yang mengandalkan dividen sering kali ditinggalkan karena kalah menarik dibandingkan imbal hasil obligasi yang makin tinggi.

Sebaliknya, sektor yang memiliki kekuatan menentukan harga (pricing power) terhadap kenaikan inflasi seperti energi dan komoditas serta perusahaan dengan pertumbuhan laba riil yang solid seperti teknologi dan farmasi, cenderung lebih tangguh dan memberikan imbal hasil optimal di tengah rezim suku bunga tinggi.