— PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) mencatatkan kinerja keuangan yang impresif sepanjang semester I-2026. Pertumbuhan laba perseroan tidak hanya ditopang oleh kenaikan penjualan secara umum, tetapi juga oleh lonjakan ekspor yang secara signifikan mendongkrak margin keuntungan.

Berdasarkan laporan keuangan interim per 30 Juni 2026, pendapatan dari kontrak dengan pelanggan yang diraih CBUT mencapai Rp 9,27 triliun. Angka ini melonjak 39,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 6,6 triliun.

Penggerak utama pertumbuhan CBUT berasal dari pasar internasional. Penjualan ekspor tercatat sebesar Rp 8,08 triliun, menunjukkan pertumbuhan sebesar 52,9% secara tahunan dari Rp 5,2 triliun pada semester I-2025. Kontribusi pasar ekspor terhadap total pendapatan CBUT kini mencapai sekitar 87,17%, meningkat dibandingkan 79,3% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, penjualan domestik justru mengalami penurunan 13,6% menjadi Rp 1,19 triliun dari sebelumnya Rp 1,38 triliun.

Dominasi ekspor membuat kinerja CBUT menjadi lebih sensitif terhadap perkembangan pasar global, harga produk sawit, nilai tukar rupiah, serta kebijakan pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE). Meskipun pendapatan meningkat, beban pokok penjualan CBUT juga naik 25,2% menjadi Rp 7,24 triliun dari Rp 5,78 triliun. Namun, pertumbuhan beban pokok ini masih jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan.

Alhasil, laba bruto perseroan melonjak 130,4% menjadi Rp 2,03 triliun dari Rp 882 miliar. Margin laba bruto CBUT pun melebar tajam menjadi 21,9%, naik dari 13,2% pada semester I-2025. Kinerja operasional turut membaik dengan laba usaha yang tumbuh 137,5% menjadi Rp 323,4 miliar dari Rp 136,7 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan CBUT tidak hanya berasal dari ekspansi volume penjualan, tetapi juga peningkatan profitabilitas bisnis.

Puncak dari kinerja positif ini adalah lonjakan laba bersih CBUT yang melesat 301,9% menjadi Rp 169,6 miliar, naik dari Rp 42,2 miliar pada semester I-2025. Laba per saham dasar pun meningkat menjadi Rp 54,3 per saham dari sebelumnya Rp 13,5 per saham. Pertumbuhan laba ini tetap dicapai meski beban keuangan meningkat 4,5% menjadi Rp 106,3 miliar, yang terutama berkaitan dengan peningkatan penggunaan fasilitas pinjaman bank untuk modal kerja dan pengaruh volatilitas nilai tukar rupiah. Laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp 219,1 miliar, melonjak 323,3% dari Rp 51,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Di balik pertumbuhan ekspor yang agresif, neraca CBUT menunjukkan konsekuensi dari ekspansi bisnis tersebut. Total aset perseroan per 30 Juni 2026 mencapai Rp 5,9 triliun, meningkat 43,4% dibandingkan Rp 4,1 triliun pada akhir 2025. Aset lancar menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 59,9% menjadi Rp 4,5 triliun, salah satunya disebabkan oleh lonjakan piutang usaha pihak ketiga menjadi Rp 972,6 miliar dari hanya Rp 95,6 miliar pada akhir tahun lalu. Kenaikan piutang ini sejalan dengan tingginya aktivitas penjualan ekspor yang belum tertagih pada akhir periode. Di sisi lain, kas dan setara kas CBUT turun 18,8% menjadi Rp 231,07 miliar dari Rp 284,8 miliar pada akhir 2025. Perseroan juga mencatat saldo bank yang dibatasi penggunaannya sebesar Rp866,97 miliar, yang sebelumnya belum tercatat, terkait implementasi ketentuan pemerintah mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Ekspansi bisnis juga tercermin dari kenaikan liabilitas CBUT. Total liabilitas per Juni 2026 mencapai Rp 4,6 triliun, meningkat 52,87% dari Rp 3,01 triliun pada akhir 2025. Kenaikan terbesar berasal dari pinjaman bank jangka pendek yang melonjak 123,57% menjadi Rp 2,72 triliun. Sekitar Rp 887,7 miliar dari jumlah tersebut berasal dari fasilitas Kredit Agunan Tunai Devisa Hasil Ekspor yang dijaminkan dengan penempatan DHE perseroan. CBUT juga meningkatkan penggunaan fasilitas modal kerja dalam dolar Amerika Serikat untuk mendukung pembelian bahan baku seiring meningkatnya skala produksi, dengan penarikan fasilitas meningkat dari sekitar US$ 68 juta menjadi US$ 103 juta.

Pertumbuhan ekspor CBUT saat ini berjalan beriringan dengan peningkatan kebutuhan modal kerja. Hal ini menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor, terutama terkait pengelolaan modal kerja, piutang, dan risiko nilai tukar. Meskipun struktur liabilitas meningkat cukup signifikan, ekuitas CBUT tetap tumbuh 17,89% menjadi Rp 1,31 triliun dari Rp 1,11 triliun pada akhir 2025, terutama berasal dari akumulasi laba bersih periode berjalan. Kinerja semester I-2026 menunjukkan bahwa hilirisasi sawit memberikan ruang pertumbuhan bagi CBUT melalui ekspansi pasar ekspor. Dengan kontribusi ekspor yang kini mencapai lebih dari 87% pendapatan, peluang pertumbuhan CBUT ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan perseroan mempertahankan pasar internasional, menjaga margin, sekaligus mengendalikan kebutuhan modal kerja.