— Low Tuck Kwong harus rela melepaskan takhtanya sebagai orang terkaya nomor satu di Indonesia. Penurunan drastis kekayaan pemilik PT Bayan Resources Tbk (BYAN) ini disebabkan oleh ambruknya harga saham perusahaan tersebut.

Berdasarkan data The Real Time Billionaires List Forbes per Selasa malam (15/9/2026), nilai kekayaan bersih Low Tuck Kwong dilaporkan menyusut US$ 2,5 miliar atau setara dengan Rp 44,2 triliun. Angka ini merupakan penurunan sebesar 14,6% dari nilai sebelumnya.

Kini, kekayaan Low Tuck Kwong tercatat sebesar US$ 14,8 miliar atau sekitar Rp 261,6 triliun. Dengan penurunan ini, ia harus terlempar dari posisi puncak ke peringkat ketiga dalam daftar orang terkaya Indonesia.

Penurunan kekayaan ini berbanding lurus dengan anjloknya harga saham BYAN di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Selasa (15/9/2026), saham BYAN ditutup merosot 8,1% ke level Rp 10.200. Sehari sebelumnya, Senin (14/9/2026), saham BYAN juga ambruk 10,1%.

Posisi puncak orang terkaya Indonesia kini diduduki oleh Robert Budi Hartono, pemilik Grup Djarum yang juga mengendalikan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kekayaan Budi Hartono mengalami kenaikan sebesar US$ 125 juta (0,7%) menjadi US$ 16,5 miliar atau sekitar Rp 292 triliun.

Di peringkat kedua ditempati oleh Prajogo Pangestu, pemilik Grup Barito Pacific. Kekayaan Prajogo Pangestu juga mencapai US$ 16,5 miliar atau setara Rp 292 triliun, meskipun mengalami penurunan sebesar US$ 522 juta (3%).

Setelah Budi Hartono dan Prajogo Pangestu, nama Anthoni Salim menyusul di peringkat keempat dengan total kekayaan US$ 11,1 miliar. Diikuti oleh Tahir & keluarga di peringkat kelima dengan kekayaan US$ 9,7 miliar, Sri Prakash Lohia di peringkat keenam dengan kekayaan US$ 8,9 miliar, dan Otto Toto Sugiri di peringkat ketujuh dengan kekayaan US$ 8,3 miliar.

Selanjutnya, Marina Budiman menempati peringkat kedelapan dengan kekayaan US$ 5,9 miliar. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono berada di peringkat kesembilan dengan kekayaan US$ 5 miliar, dan TP Rachmat melengkapi sepuluh besar orang terkaya Indonesia di peringkat kesepuluh dengan kekayaan US$ 4,9 miliar.

Isu Bayan Resources (BYAN)

Isu mengenai Bayan Resources (BYAN) mencuat setelah perusahaan beserta anak usahanya, PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP), pada 11 September 2026 menyampaikan pemberitahuan mengenai keadaan force majeure atau keadaan kahar terhadap kewajiban penyediaan batu bara berdasarkan perjanjian coal supply agreement kepada para pelanggannya.

Direksi BYAN menjelaskan bahwa kondisi force majeure ini terjadi karena belum diterbitkannya persetujuan atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Tahun 2026 kepada anak-anak usaha perseroan, meskipun permohonan persetujuan perubahan RKAB telah diajukan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Mengingat ketetapan persetujuan RKAB diperlukan agar anak-anak usaha perseroan dapat menjalankan kegiatan produksi batu bara secara sah, kondisi saat ini memengaruhi kemampuan perseroan dan anak-anak usahanya untuk memenuhi kewajiban kepada para pelanggan,” ungkap direksi BYAN dalam keterbukaan informasi.

Di sisi lain, pasar juga diramaikan oleh rumor rencana akuisisi Bayan Resources (BYAN) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, atau yang dikenal sebagai Haji Isam. Entitas yang dikendalikan Haji Isam disebut-sebut telah menawarkan sekitar US$ 3 miliar atau Rp 52,6 triliun untuk mengambil alih sekitar 62% saham BYAN.