DailyFX.ID — Investor global menanti kejelasan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dalam simposium Jackson Hole yang berlangsung pekan ini. Perhatian utama tertuju pada bagaimana bank sentral Amerika Serikat akan merespons kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah yang turut memperketat kondisi keuangan.
Fokus pasar mengarah pada pidato Gubernur The Fed, Kevin Warsh, pada Jumat (28/08/2026). Para pelaku pasar berharap Warsh dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai strategi The Fed dalam menurunkan inflasi menuju target 2%. Selain itu, investor juga ingin mengetahui bagaimana kenaikan imbal hasil obligasi akan memengaruhi keputusan suku bunga bank sentral.
Sebelumnya, Warsh telah mengisyaratkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury dapat berkontribusi pada pengetatan kondisi moneter. Kondisi ini dinilai berpotensi mengurangi kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga, meskipun inflasi masih berada di atas target yang ditetapkan.
Namun, pendekatan Warsh yang cenderung minim memberikan forward guidance membuat sebagian investor merasa arah kebijakan The Fed menjadi lebih sulit untuk diperkirakan. “Kurangnya arah seperti ini bisa membuat frustrasi,” ujar Robert Gill, manajer portofolio Fairbank Investment Management di Toronto, seperti dikutip Reuters pada Rabu (26/08/2026). Ia menambahkan bahwa ketidakpastian kebijakan ini turut berkontribusi terhadap lonjakan imbal hasil obligasi jangka panjang.
Imbal Hasil Obligasi Menjadi Sorotan Utama
Pasar obligasi Amerika Serikat belakangan ini mengalami tekanan yang signifikan. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap tingginya utang pemerintah dan potensi peningkatan penerbitan surat utang baru. Tekanan tersebut mendorong imbal hasil Treasury jangka panjang mendekati level tertinggi yang belum pernah terjadi dalam hampir dua dekade.
Menanggapi situasi ini, Departemen Keuangan AS mengambil langkah untuk meningkatkan pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang guna menjaga likuiditas pasar. Namun, dampak dari langkah ini terhadap penurunan imbal hasil ternyata hanya bersifat sementara.
Investor menilai bahwa persoalan ini menunjukkan The Fed menghadapi tantangan ganda: tidak hanya dari sisi inflasi, tetapi juga dari kondisi pasar obligasi yang bergejolak. Salah satu perhatian utama pasar saat ini adalah meningkatnya term premium, yaitu tambahan imbal hasil yang diminta oleh investor sebagai kompensasi risiko ketidakpastian ekonomi dan fiskal ketika memegang obligasi berjangka panjang.
Investor sangat berharap Warsh dapat menegaskan kembali komitmen The Fed terhadap target inflasi 2% dan memberikan penjelasan mengenai seberapa cepat bank sentral berencana mengembalikan inflasi ke level tersebut. “Apakah mereka akan memberinya waktu satu tahun, atau mencoba mengembalikannya ke target dalam enam bulan?” kata Vishal Khanduja, kepala Broad Markets Fixed Income Morgan Stanley Investment Management.
Pasar Mulai Memperhitungkan Kenaikan Suku Bunga
Ketidakpastian mengenai arah kebijakan The Fed tercermin dalam meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga. Data dari kontrak berjangka suku bunga AS menunjukkan adanya peluang sekitar 40% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya, angka ini naik dari 33% pada pekan sebelumnya, berdasarkan perhitungan CME FedWatch.
Ekspektasi kenaikan suku bunga ini muncul meskipun sejumlah indikator ekonomi menunjukkan bahwa perekonomian AS belum menghadapi tekanan yang berlebihan. Pertumbuhan lapangan kerja dilaporkan melambat, sementara laju kenaikan harga juga menunjukkan tren yang lebih moderat.
Sebagian investor berpendapat bahwa kenaikan imbal hasil obligasi sebenarnya telah membantu The Fed dalam upaya memperketat kondisi keuangan tanpa harus menaikkan suku bunga secara langsung. George Catrambone, kepala pendapatan tetap Amerika di DWS, menyebutkan bahwa pasar obligasi telah mengambil sebagian pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh bank sentral melalui kebijakan suku bunga.
Sejak Kevin Warsh memimpin The Fed pada Mei, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun tercatat mengalami kenaikan sekitar 8 basis poin, sementara tenor 30 tahun meningkat sekitar 10 basis poin. Meskipun demikian, kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang tidak semata-mata dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi dan suku bunga. Besarnya pasokan obligasi pemerintah serta permintaan dari investor juga memiliki peran penting dalam menentukan pergerakan pasar.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah juga menghadapi persaingan dari tingginya penerbitan obligasi korporasi, yang sebagian digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan. Para investor pun menilai kredibilitas The Fed dalam menjaga stabilitas inflasi tetap menjadi faktor krusial untuk menahan tekanan terhadap imbal hasil obligasi jangka panjang. “Pada akhirnya, The Fed harus bertindak atau mengatakan sesuatu,” ucap Jeff Klingelhofer, salah satu kepala investasi Aristotle Capital.
Ikuti DailyFX.ID
