— GRESIK – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah bertransformasi menjadi penyerap utama (offtaker) produksi pertanian nasional. Program ini berperan sebagai pembeli yang menjamin dan menyerap langsung hasil panen para petani.

“MBG ini menjadi offtaker produksi pertanian. Ekosistem pelaku usaha di dalamnya mencakup 160 juta petani, peternak, hingga pelaku perikanan,” ujar Amran saat kunjungan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada Selasa (11/8/2026).

Amran menjelaskan, penghentian sementara program MBG berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap rantai distribusi para pelaku usaha. Ia mencontohkan fenomena anjloknya harga telur ayam hingga Rp 19.000 per kilogram di Kendal, Jawa Tengah, yang sedang menjadi sorotan.

Padahal, harga acuan telur berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024 seharusnya mencapai Rp 26.500 per kilogram di tingkat kandang. Menurut Amran, anjloknya harga telur ini disebabkan oleh libur sekolah yang mengakibatkan program MBG tidak berjalan.

“Yang dulu memprotes MBG sekarang diam. Mereka tidak menyadari dampaknya. Padahal, MBG ini adalah solusi yang holistik,” tegasnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) segera bertindak untuk mengatasi penurunan harga telur ayam di tingkat peternak. Kementan berencana mengadakan pertemuan dengan peternak se-Indonesia guna menyepakati solusi atas permasalahan tersebut.

“Kemarin mereka meminta harga pakan tidak naik, saya sudah menandatangani kesepakatan dengan Bulog. Kemudian, MBG yang sebelumnya hanya menyuplai telur satu kali seminggu, akan diupayakan menjadi dua hingga tiga kali. Yang ketiga, harga pembelian telur di MBG akan mengikuti harga pembelian pemerintah, yaitu Rp 26.000 per kilogram,” tutup Amran.