— Lebih dari 5.500 pelari dari berbagai daerah di Indonesia hingga Malaysia memadati kawasan Monumen Reog Ponorogo, Desa Sampung, pada Sabtu (22/8/2026) dalam ajang Merdeka Run Ponorogo 2026. Acara ini menggabungkan unsur olahraga, pariwisata, dan promosi budaya, dengan tujuan menjadi penggerak aktivitas ekonomi baru sekaligus memperkenalkan Monumen Reog sebagai destinasi wisata unggulan Ponorogo.

Merdeka Run Ponorogo 2026 diselenggarakan oleh Paguyuban Pawitandirogo untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Peserta tidak hanya berasal dari berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah, tetapi juga dari Jakarta, Bandung, hingga Malaysia. Ribuan peserta yang mengenakan kostum bernuansa merah putih memulai lomba dari pelataran Monumen Reog tepat pada pukul 06.00 WIB.

Ketua Umum Pawitandirogo sekaligus Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyatakan bahwa kegiatan ini telah berkembang menjadi agenda yang ditunggu oleh komunitas pelari. Selain bertepatan dengan momentum kemerdekaan, kegiatan ini dimanfaatkan untuk memperluas pengenalan terhadap Monumen Reog.

“Ini event lomba lari tahunan yang sudah ditunggu komunitas pelari di sekitar Jawa Timur dan Jawa Tengah. Momentumnya pas dengan acara perayaan kemerdekaan, sekaligus untuk memperkenalkan Monumen Reog sebagai bangunan monumen tertinggi di Indonesia, menjadi destinasi wisata dan sumber pertumbuhan ekonomi baru untuk masa depan Ponorogo,” ujar Susiwijono dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, Minggu (23/8/2026).

Flag off atau pelepasan peserta dilakukan bersama Bupati Ponorogo Lisdyarita, Susiwijono, Pembina Pawitandirogo sekaligus Anggota I BPK Nyoman Adhi Suryadnyana, Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Sudarto, Sekjen Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Edwin Manansang, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan tokoh diaspora Ponorogo.

Merdeka Run menawarkan dua kategori lomba. Kategori pertama adalah 10 kilometer (K) Trail Run yang membawa peserta menyusuri kawasan perbukitan, sungai, jembatan kecil, hingga hutan jati dengan latar Monumen Reog setinggi 126 meter. Kategori kedua adalah 5K Fun Run yang menawarkan lintasan lebih ramah keluarga melalui kawasan persawahan dengan panorama Monumen Reog.

UMKM Hidup, Hotel Penuh, dan Pariwisata Bergerak

Besarnya jumlah peserta memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi setempat. Bupati Ponorogo Lisdyarita mengungkapkan bahwa kedatangan ribuan pelari turut meningkatkan aktivitas perhotelan, kuliner, pariwisata, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Sebanyak 5.500 pelari datang ke Sampung. UMKM hidup, hotel penuh, pariwisata bergerak. Ini bukti olahraga bisa menggerakkan ekonomi. Pemkab Ponorogo akan terus support event seperti ini,” kata Lisdyarita.

Konsep sport tourism ini akan terus dikembangkan agar peserta tidak hanya datang untuk berlomba, tetapi juga menikmati destinasi dan mengenalkan Ponorogo kepada masyarakat yang lebih luas. “Kami ingin pelari tidak hanya finish, tapi juga foto, wisata, dan cerita ke mana-mana. Monumen Reog harus dikenal juga sebagai destinasi wisata olahraga, bukan hanya sebagai ikon budaya,” tambah Susiwijono.

Pada kesempatan yang sama, Nyoman Adhi Suryadnyana memastikan bahwa rencana pembangunan dan pengembangan Monumen Reog akan dilanjutkan. Menanggapi catatan hasil pemeriksaan BPK yang sebelumnya menjadi perhatian masyarakat, ia menyatakan persoalan terkait proses dan aspek hukum pembangunan monumen telah diselesaikan.

“Monumen Reog ini insyaallah sudah clear. Kita akan lanjutkan pembangunan dan pengembangannya, dengan meningkatkan tata kelola yang lebih baik dalam semua prosesnya,” tegas Nyoman.

Kelanjutan pembangunan infrastruktur, fasilitas, dan ekosistem di sekitar Monumen Reog diharapkan dapat memperkuat daya tarik kawasan tersebut. Melalui pengembangan destinasi yang dipadukan dengan kegiatan seperti Merdeka Run, Monumen Reog tidak hanya diarahkan menjadi ikon budaya, tetapi juga menjadi magnet wisata dan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Ponorogo.