— Mirae Asset Sekuritas memutuskan untuk mempertahankan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 6.800 hingga akhir tahun 2026. Keputusan ini diambil meskipun pasar saham menunjukkan penguatan dalam beberapa waktu terakhir. Pihaknya menekankan pentingnya kewaspadaan investor terhadap potensi perlambatan ekonomi pada semester kedua tahun 2026 yang dikhawatirkan dapat menekan kinerja emiten.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa penguatan IHSG yang terjadi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental ekonomi domestik. Oleh karena itu, target IHSG yang telah ditetapkan sebelumnya tidak mengalami perubahan.

“Untuk semester II-2026, positioning kami masih belum berubah. Target IHSG kami masih di sekitar 6.800,” ujar Rully dalam acara Mirae Asset Media Day di Jakarta pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Rully menambahkan bahwa sentimen global menjadi salah satu penopang utama pasar saham saat ini. Salah satu katalis positif yang signifikan berasal dari perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 telah menurun drastis dari kisaran 75%-80% menjadi sekitar 30%.

Perubahan ekspektasi ini telah menciptakan sentimen pasar global yang lebih positif, memberikan ruang bagi aset berisiko seperti saham di pasar negara berkembang. Namun, Rully mengingatkan bahwa penguatan IHSG perlu dicermati secara selektif karena belum sepenuhnya didukung oleh fundamental domestik.

“Kalau kita lihat penguatan IHSG, yang mendorong bukan seluruhnya saham-saham yang terkait dengan optimisme terhadap fundamental. Ada beberapa saham yang biasanya tidak terlalu aktif, tetapi tiba-tiba menjadi aktif,” jelasnya.

Rully mengidentifikasi risiko terbesar terhadap IHSG ke depan berasal dari potensi perlambatan ekonomi domestik. Meskipun kinerja emiten pada kuartal II-2026 masih relatif baik, perlambatan ekonomi di semester II berpotensi mulai berdampak pada pertumbuhan laba perusahaan.

“Kalau kita lihat dari sisi earnings, kuartal II masih cukup bagus. Tetapi potensi perlambatan ekonomi di semester II juga dapat berdampak terhadap earnings perusahaan,” ungkapnya.

Menyikapi hal ini, Mirae Asset memilih untuk lebih selektif dalam menentukan sektor maupun saham yang dapat menjadi pilihan investasi. Saham dengan fundamental dan pertumbuhan laba yang kuat dinilai lebih mampu menghadapi potensi perlambatan ekonomi.

Selain faktor domestik, risiko fiskal juga masih menjadi perhatian. Ruang fiskal pemerintah yang semakin terbatas berpotensi menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi, terutama apabila pemerintah tetap berupaya mendorong kebijakan yang bersifat pro-growth.

Katalis Moneter dan Pergerakan Rupiah

Dari sisi moneter, Rully melihat ruang kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) semakin terbatas. Jika terjadi kenaikan, kemungkinan hanya sekitar 25 basis poin, sementara peluang BI mempertahankan suku bunga juga cukup besar. Penurunan suku bunga dinilai masih terlalu dini mengingat stabilitas rupiah tetap menjadi perhatian utama.

“Kami melihat ruang kenaikan semakin terbatas. Kalau naik mungkin hanya sekitar 25 basis poin, atau bahkan tidak naik sama sekali. Tetapi untuk menurunkan suku bunga, menurut kami masih terlalu dini,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, BI diperkirakan akan lebih mengandalkan kebijakan non-suku bunga, seperti kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran, untuk mendorong pertumbuhan kredit tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap rupiah. Kebijakan ini dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham apabila berhasil menjaga pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi tanpa meningkatkan tekanan terhadap inflasi maupun nilai tukar.

Di sisi lain, pergerakan rupiah juga menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor. Mirae Asset masih mempertahankan proyeksi rupiah di sekitar Rp 18.000 per dolar AS. Rully menilai penguatan rupiah belakangan lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan perbaikan fundamental domestik.

Perubahan sentimen global, termasuk ekspektasi kebijakan The Fed dan pergerakan imbal hasil US Treasury, masih akan menentukan arah rupiah. Apabila yield US Treasury kembali meningkat sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia turun, selisih imbal hasil atau spread Indonesia dengan AS berpotensi semakin menyempit. Kondisi tersebut dapat kembali memberikan tekanan terhadap rupiah.

Dengan berbagai faktor tersebut, Mirae Asset masih melihat peluang IHSG untuk bergerak menuju target 6.800, namun investor perlu lebih selektif dan tidak semata-mata mengejar penguatan indeks.

“Untuk saat ini kami lebih selektif melihat sektor dan saham yang fundamental serta earnings-nya masih bagus,” pungkas Rully.