DailyFX.ID — Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026. Penguatan ini melanjutkan tren positif yang terjadi pada Kamis sore (20/8/2026), di mana rupiah ditutup menguat 92 poin atau 0,52% ke level Rp 17.748 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung menguat dengan kisaran Rp 17.700 hingga Rp 17.750 per dolar AS pada perdagangan hari ini. “Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi menguat di rentang Rp 17.700 – Rp 17.750 per dolar AS,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).
Ibrahim menjelaskan bahwa penguatan rupiah didorong oleh respons positif pasar terhadap rencana pemerintah Indonesia untuk memangkas kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara signifikan pada tahun 2027. Langkah ini menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menentukan penurunan subsidi BBM tertentu di tahun mendatang.
Pemerintah juga menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 75 per barel untuk tahun 2027. Angka ini masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berkisar di US$ 83 per barel, dengan nilai tukar rupiah di angka Rp 17.500. “Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 75 per barel pada 2027. Angka tersebut masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran US$ 83 per barel dan rupiah di angka Rp.17.500,” Ibrahim menyoroti.
Meskipun demikian, Ibrahim mengamati bahwa sikap hati-hati investor masih membayangi pasar menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal kedua pekan ini. Hal ini mengingat defisit Indonesia pada kuartal pertama sempat melebar ke tingkat terbesar sejak 2019 akibat kinerja perdagangan yang melemah.
Sentimen eksternal juga akan memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah kekhawatiran mengenai kemacetan di jalur distribusi minyak global, khususnya di Selat Hormuz. Pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan klaim AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan potensi perundingan damai dengan Iran masih terbuka di lain waktu.
Selain itu, risalah rapat Federal Reserve (The Fed) terbaru di bulan Juli juga menjadi perhatian. Sejumlah pembuat kebijakan dalam risalah tersebut melihat kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menunjukkan penurunan.
Ikuti DailyFX.ID
