— JAKARTA – Nilai tukar rupiah (IDR) melanjutkan tren penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga penutupan perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026. Rupiah ditutup menguat 92 poin atau 0,52% ke level Rp 17.748 per dolar AS, naik dari penutupan sebelumnya di Rp 17.840 per dolar AS.

Penguatan ini terjadi meskipun pasar global menghadapi dampak penutupan jalur distribusi minyak global di Selat Hormuz yang berlarut-larut. Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pasar kini bersiap menghadapi kebuntuan berkepanjangan di Selat Hormuz. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang akan memberlakukan pembatasan ekonomi tambahan yang ketat terhadap Iran.

Iran sendiri telah menghadapi sanksi ketat dari AS terkait ekspor minyaknya, dan Washington telah memberlakukan blokade angkatan laut di tengah konflik yang sedang berlangsung. Namun, rupiah terus menunjukkan penguatan.

Faktor lain yang turut mendorong penguatan rupiah adalah penurunan imbal hasil acuan Treasury AS tenor 10-tahun lebih dari 5 basis poin dan tenor 30-tahun hampir 9 bps. Penurunan ini terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan meningkatkan volume pembelian kembali (buyback) untuk mendukung likuiditas pada surat berharga pemerintah berjangka waktu lebih panjang.

Risalah Federal Reserve (The Fed) terbaru bulan Juli juga memberikan sentimen positif. Dokumen tersebut menunjukkan banyak pembuat kebijakan melihat kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menurun. Sinyal ini turut mempengaruhi pergerakan mata uang global.

Dari sisi domestik, rupiah menguat seiring respon positif pasar terhadap rencana pemerintah Indonesia untuk memangkas kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara signifikan pada tahun 2027.