DailyFX.ID — Pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) telah membuka harapan baru bagi saham sektor properti di Indonesia. Proyek strategis yang digagas pemerintah ini diproyeksikan mampu menarik investasi senilai Rp300-500 triliun.
Investasi tersebut berpotensi menjadi katalisator utama bagi peningkatan permintaan di berbagai segmen properti, mulai dari perkantoran, hunian, hotel, pusat perbelanjaan, hingga kawasan komersial. Wilayah yang diperkirakan akan merasakan dampak signifikan antara lain Jakarta dan Bali.
PFII tidak hanya dipandang sebagai proyek sektor keuangan semata. Keberadaannya diharapkan dapat menarik kehadiran perusahaan multinasional, institusi keuangan global, investor asing, family office, manajer investasi, perusahaan teknologi finansial, serta tenaga kerja profesional. Hal ini diperkirakan akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi sektor properti.
Rekomendasi Saham Properti Unggulan
Permintaan awal diperkirakan akan didominasi oleh kebutuhan ruang perkantoran. Seiring dengan peningkatan aktivitas bisnis, kebutuhan akan hunian, hotel, ritel, restoran, pusat hiburan, fasilitas kesehatan, hingga properti komersial lainnya diprediksi akan ikut terdorong naik.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai bahwa PFII berpotensi memberikan efek ganda jangka panjang terhadap permintaan ruang komersial, gedung perkantoran kelas A, apartemen eksklusif, hingga kawasan hunian. Ia juga menambahkan bahwa PFII dapat menjadi faktor re-rating bagi emiten yang memiliki portofolio komersial dan kawasan berskala besar.
“Dari SMRA, BSDE, APLN, CBDK, PWON, PANI dan CTRA, saya akan menempatkan PANI, BSDE, CBDK, dan PWON sebagai kelompok yang paling menarik, dengan karakter katalis yang berbeda,” ujar Nafan kepada Investor Daily, Rabu (19/8/2026).
Nafan menjelaskan bahwa PANI menarik karena memiliki eksposur kuat pada pengembangan kawasan terpadu dan lifestyle, serta berpotensi mendapat sentimen positif dari peningkatan kebutuhan hunian premium, hospitality, area komersial, dan pusat gaya hidup.
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) diketahui sedang mempercepat pengembangan kawasan komersial Summarecon Crown Gading melalui proyek Emerald Commercial. Fundamental PANI juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat, dengan laba bersih semester I-2026 mencapai Rp1,67 triliun, melonjak 484% secara tahunan. Pendapatan perusahaan tercatat Rp2,92 triliun atau tumbuh 78%, sementara presales mencapai Rp1,9 triliun, naik 66%.
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) memiliki keunggulan dalam pengembangan township, landbank, dan kedekatan dengan ekosistem Jakarta. Jika PFII berhasil menjadi pusat aktivitas finansial baru di Jabodetabek, BSDE berpotensi mendapatkan spillover demand untuk hunian, area komersial, dan properti recurring income.
Sementara itu, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) unggul dari sisi diversifikasi. Untuk PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), investor disarankan untuk lebih selektif dengan memperhatikan aspek leverage dan kualitas neraca.
CBDK memiliki daya tarik melalui pengembangan kawasan berskala besar serta ekosistem PIK dan Kosambi. Apabila Jakarta berkembang menjadi hub finansial internasional, kawasan dengan fasilitas premium dan konektivitas baik berpotensi mengalami peningkatan nilai lahan. Namun, volatilitas CBDK juga relatif tinggi.
PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) memiliki keunggulan melalui recurring income dari pusat perbelanjaan, hotel, dan properti komersial. Peningkatan jumlah pekerja profesional, ekspatriat, dan investor asing diprediksi akan mendorong traffic, okupansi hotel, serta pendapatan sewa.
Green Office Park 9 milik PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) merupakan salah satu contoh aset yang potensial. Selain empat emiten tersebut, SMRA dan CTRA juga berpotensi mendapatkan sentimen positif. SMRA memiliki eksposur pada kawasan terpadu dan properti komersial, sedangkan CTRA unggul dalam diversifikasi.
BRI Danareksa Sekuritas turut menyoroti PT Sentul City Tbk (BKSL) yang memiliki landbank sekitar 14.543 hektare. Namun, PFII dinilai baru menjadi katalis positif sektor properti dan dampaknya terhadap fundamental masih terbatas selama proyek belum terealisasi secara konkret.
Katalis Jangka Panjang
Muhammad Wafi, Head of Research KISI, menilai PFII sebagai long-dated catalyst yang menarik secara konseptual. Namun, ia mengingatkan investor untuk bersikap realistis mengenai waktu yang dibutuhkan untuk mengubah konsep ini menjadi ekosistem finansial yang berfungsi penuh.
“Biasanya butuh 5-10+ tahun dari konsep ke ecosystem functional,” kata Wafi.
Menurutnya, masih diperlukan kejelasan mengenai kerangka regulasi, lokasi spesifik, serta komitmen konkret dari perusahaan global. Tanpa perkembangan ini, PFII masih berada pada level narasi positif dibandingkan katalis konkret dalam jangka pendek.
“CBDK dan PANI dengan exposure Jakarta premium berpotensi lebih langsung diuntungkan jika PFII genuinely develop di sana. BSDE dan SMRA juga berpotensi capture spillover demand,” ujarnya.
Salah satu proyek PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN). Foto: Perseroan.
Rekomendasi Saham dari Pengamat
Elandry Pratama, Pengamat Pasar Modal sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, menilai PFII berpotensi menjadi katalis positif melalui penciptaan permintaan baru terhadap perkantoran, hospitality, residensial, ritel, dan area komersial.
Namun, dampaknya terhadap laba emiten kemungkinan belum akan terlihat pada 2026 karena pembangunan ekosistem pusat finansial internasional membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun.
“Dampaknya ke laba emiten kemungkinan tidak langsung terlihat di 2026 karena pembangunan ekosistemnya membutuhkan waktu,” ujar Elandry.
Dari sisi risk-reward, Elandry lebih memilih BSDE dan PANI, diikuti oleh SMRA dan CTRA. Untuk skenario akhir 2026, ia memberikan kisaran target harga untuk BSDE di Rp700-Rp750, PANI Rp10.000-Rp11.500, SMRA Rp380-Rp420, CTRA Rp1.250-Rp1.350, PWON Rp650-Rp700, CBDK Rp6.500-Rp6.800, dan APLN Rp180-Rp210.
Ikuti DailyFX.ID
