— Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyiapkan 8 ton garam halus untuk melakukan operasi modifikasi cuaca di wilayah Kalimantan Timur. Langkah ini diambil dalam upaya mengatasi bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) yang melanda provinsi tersebut selama lima hari ke depan.

Operasi modifikasi cuaca ini diharapkan dapat menambah kandungan air di awan hingga 30%, sehingga memicu turunnya hujan. Kepala BMKG Kalimantan Timur, Djoko, menjelaskan bahwa garam tersebut akan disebar di atas awan. “Untuk penambahan karena ini musim kemarau, kita berharap itu penambahan suplai air di Kalimantan Timur itu bisa mencapai 30% dari kolom udara yang disemaikan gitu ya, kalau misalnya udaranya 1.000 meter kubik ya, 30 persennya dari itulah ada penambahan 30 persen,” ujar Djoko kepada B-Universe di Lanud Dhomer Balikpapan, Sabtu (22/8/2026) sore.

Sebanyak 8 ton garam telah disimpan di gudang Pangkalan Udara (lanud) Dhomber Balikpapan dan akan digunakan setiap hari selama periode operasi. Modifikasi cuaca ini melibatkan satu unit pesawat Cassa C-212 milik TNI Angkatan Udara. Pesawat tersebut dijadwalkan terbang setiap hari untuk menyemai 500 kilogram garam di atas awan.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengurangi titik panas atau hotspot yang terpantau satelit di Kalimantan Timur. Selain itu, operasi ini juga bertujuan untuk memicu turunnya hujan guna menaikkan kembali debit air di Waduk Sepaku-Semoi yang berada di wilayah Ibu Kota Negara (IKN).

Proses penyemaian garam sempat terkendala oleh kondisi awan yang jarang. Namun, penyemaian baru dapat dilakukan ketika pesawat berhasil menemukan sekumpulan awan yang dianggap memiliki potensi keberhasilan modifikasi cuaca yang lebih tinggi.

Masyarakat Kalimantan Timur menyambut baik upaya ini, mengingat wilayah tersebut telah dilanda musim kemarau ekstrem selama hampir dua bulan terakhir, yang memicu terjadinya bencana kekeringan.