DailyFX.ID — Peningkatan angka infertilitas di Indonesia mendorong Morula Indonesia untuk memperkuat pendidikan dan pelatihan terkait infertilitas serta bayi tabung. Langkah ini dilakukan melalui kerja sama dengan Monash University.
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D, menyatakan bahwa infertilitas merupakan isu krusial di Indonesia. “Bagi sebagian orang, dua garis merah muda itu mungkin muncul semudah goresan pensil. Namun, bagi jutaan orang di Indonesia, hal itu merupakan sesuatu yang telah lama dinanti—dan bagi sebagian lainnya, momen itu belum juga tiba,” ujarnya.
Prof. Dante mengungkapkan bahwa diperkirakan ada empat hingga enam juta orang di Indonesia yang mengalami infertilitas. Bersamaan dengan itu, tingkat kesuburan nasional terus menurun. “Pada tahun 1980, tingkat kesuburan kita berada di angka sekitar 4,68. Saat ini, angkanya mencapai sekitar 2,19. Jadi, infertilitas telah menjadi masalah yang semakin penting di negara kita,” tegasnya.
Ia mengapresiasi kemitraan Morula Indonesia dengan Education Program in Reproduction and Development (EPRD) dari Monash University. Kemitraan ini bertujuan membangun registri longitudinal hasil IVF menggunakan data dari jaringan klinik fertilitas Morula di seluruh Indonesia. Bersamaan dengan itu, diresmikan pula Morula International Fertility Clinic (Morula IFC) di Biomedical Campus, BSD City.
CEO PT Morula Indonesia dan Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk, Dr. Ivan Rizal Sini, menyatakan, “Indonesia memiliki dokter, ilmuwan, serta pengalaman puluhan tahun yang kuat dalam pelayanan fertilitas. Langkah berikutnya adalah membangun fondasi tersebut melalui data yang lebih kuat, hasil yang transparan, serta kolaborasi internasional yang lebih mendalam. Dengan demikian, kita dapat memperkuat kepercayaan terhadap layanan fertilitas di Indonesia.”
Dr. Ivan menambahkan, “Melalui kerja sama dengan Monash University, kami berharap dapat berkontribusi dalam menghadirkan bukti yang lebih kuat, transparansi yang lebih baik, serta layanan fertilitas yang didukung oleh informasi yang lebih baik di Indonesia.”
Registri longitudinal hasil IVF bersama Monash University dan pembukaan Morula International Fertility Clinic merupakan arah strategis Morula Indonesia untuk mengukur hasil secara komprehensif sekaligus menghadirkan layanan berstandar internasional. Kedua inisiatif ini mencerminkan upaya Morula Indonesia dalam memberikan perawatan kesuburan yang lebih baik dengan hasil yang lebih transparan.
Mengukur Keberhasilan Lebih dari Sekadar Kehamilan
Dr. Ivan menjelaskan bahwa satu siklus IVF meliputi stimulasi ovarium, pengambilan sel telur, dan transfer embrio, baik embrio segar maupun beku. Pelaporan keberhasilan saat ini umumnya diukur berdasarkan kehamilan per transfer.
Basis data hasil IVF Morula–Monash akan melacak setiap embrio dari satu kali pengambilan sel telur hingga mencapai kelahiran hidup, dengan menghubungkan pengambilan sel telur awal dengan seluruh transfer berikutnya dalam satu siklus ART lengkap. Data ini akan mengkaji angka kelahiran hidup kumulatif dari satu siklus ART lengkap, kelahiran hidup setelah transfer embrio segar dan beku, hasil pada berbagai kelompok pasien, serta waktu dan jumlah tahapan perawatan untuk mencapai kelahiran hidup.
Sistem pelaporan fertilitas di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia telah menggunakan kelahiran hidup sebagai salah satu hasil utama. Morula dan Monash berupaya agar basis data ini berkontribusi pada diskusi nasional mengenai pengukuran dan pelaporan hasil IVF yang ideal.
Dr. Mulyoto Pangestu, dosen pada Education Program in Reproduction and Development (EPRD) Monash University, menekankan, “Bagi pasien, pertanyaan yang penting bukan hanya apakah suatu transfer embrio menghasilkan kehamilan, tetapi juga seberapa besar kemungkinan pada akhirnya mencapai kelahiran hidup setelah menjalani keseluruhan rangkaian perawatan.”
Klinik Fertilitas Internasional Baru
Morula IFC merupakan pusat layanan seluas 1.200 meter persegi yang berlokasi di Banten International Education, Technology and Health Special Economic Zone di BSD City. Klinik ini dibangun berdasarkan pengalaman 28 tahun dalam pelayanan fertilitas di Indonesia untuk memperluas akses layanan fertilitas tingkat lanjut bagi keluarga di wilayah Tangerang Raya, Banten, dan Jabodetabek bagian barat.
Laboratorium klinik dipimpin oleh Scientific Director asal Australia, Audrey Wei, dengan pengalaman internasional lebih dari 20 tahun, didampingi Prof. Arief Boediono, Group Scientific Director Morula Indonesia. Kolaborasi klinis juga melibatkan Dr. Lihong Geng dari Jinxin Fertility Group.
Tim manajemen klinik memiliki pengalaman global di bidang layanan kesehatan. Morula IFC juga didukung tim layanan multibahasa yang melayani pasien dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Jepang, dan Vietnam.
Layanan di Morula IFC menerapkan model Morula 360° Fertility Care, sebuah model layanan terkoordinasi yang berpusat pada manusia, mencakup tim medis, keperawatan, embriologi, farmasi, dan dukungan pasien. Model ini didukung laboratorium IVF canggih, fasilitas penyimpanan kriopreservasi 24 jam, serta ruang konsultasi dan konseling yang dirancang untuk privasi dan kenyamanan pasien.
Naveen K. Mantha, Deputy CEO Morula Indonesia, menyatakan, “Menjadi internasional bukan hanya tentang dari mana keahlian kami berasal. Hal ini berarti menggabungkan pengalaman global dan standar operasional yang kuat dengan pemahaman yang mendalam mengenai keluarga Indonesia, serta memberikan kualitas tersebut secara konsisten di setiap tahapan perjalanan fertilitas.”
Ikuti DailyFX.ID
