— SATU Dental Group menargetkan penambahan sekitar satu klinik baru setiap bulan. Strategi ekspansi jaringan layanan kesehatan gigi ini mengandalkan analisis data untuk menentukan lokasi yang tepat, serta didukung oleh model bisnis terintegrasi.

Chief Executive Officer (CEO) SATU Dental Group, Satria Situmorang, menjelaskan bahwa perusahaan saat ini telah mengoperasikan 57 klinik yang dikembangkan dalam kurun waktu sekitar lima tahun. Jaringan ini didukung oleh hampir 600 dokter gigi, dengan mayoritas sekitar 80% adalah perempuan.

“Target kita kurang lebih satu bulan tambah satu klinik,” ujar Satria. Ia menambahkan, penambahan jaringan merupakan upaya perusahaan untuk memperluas akses terhadap layanan kesehatan gigi, mengingat masih adanya kesenjangan pelayanan di Indonesia.

Satria memaparkan, SATU Dental hadir sebagai solusi holistik untuk mengatasi tiga hambatan utama masyarakat dalam merawat gigi: keterbatasan akses, persepsi biaya yang mahal dan tidak transparan, serta rasa takut akan tindakan medis. Merujuk pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 90% masyarakat yang mengalami masalah gigi belum memperoleh perawatan dari tenaga medis profesional. Selain itu, rasio pelayanan medis masih berkisar satu tenaga medis untuk 8.000 penduduk, sementara 2.375 puskesmas dilaporkan beroperasi tanpa dokter gigi.

Akses menjadi salah satu faktor penundaan perawatan, selain kekhawatiran biaya dan rasa takut. Oleh karena itu, perusahaan berupaya memperluas jaringan klinik dengan mempertimbangkan jarak dan karakteristik wilayah.

Gunakan Data untuk Pilih Lokasi

Dalam menentukan lokasi cabang baru, SATU Dental menggunakan tim data analytics untuk menganalisis berbagai indikator. Indikator tersebut mencakup kepadatan penduduk, karakteristik demografi, hingga pola pengeluaran masyarakat. Perusahaan juga membedakan karakter kawasan perkantoran dan permukiman karena keduanya memerlukan pendekatan pengembangan klinik yang berbeda.

“Kita punya data demografi di masing-masing kecamatan atau masing-masing area. Kita bisa lihat kepadatan penduduknya, spending-nya seperti apa, lalu kita juga melihat karakter dari lokasi tersebut,” jelas Satria. Pendekatan ini telah diterapkan untuk pengembangan jaringan di Jabodetabek, Surabaya, dan Semarang. Perusahaan juga telah mengumpulkan data sejumlah kota lain untuk mendukung ekspansi berikutnya.

Sebagian besar klinik dimiliki dan dikelola sendiri oleh perusahaan, namun SATU Dental juga menerapkan model kemitraan dengan sejumlah dokter gigi.

Integrasikan Distribusi hingga Laboratorium

Selain memperluas jaringan klinik, SATU Dental membangun ekosistem bisnis yang mencakup distribusi peralatan kesehatan gigi hingga laboratorium internal. Ekosistem ini terdiri dari jaringan klinik SATU Dental, distributor dan e-commerce peralatan gigi Klik Dental, serta laboratorium Dua Lab & Tech.

Klik Dental menangani pengadaan peralatan kedokteran gigi dan bahan habis pakai yang diimpor dari Eropa, Amerika Serikat (AS), dan Tiongkok. Satria menyebutkan, pembelian dan impor langsung memberikan perusahaan kontrol lebih besar terhadap spesifikasi produk sekaligus biaya pengadaan.

Sementara itu, Dua Lab & Tech memproduksi kebutuhan prostetik seperti gigi palsu, veneer, dan crown. Keberadaan laboratorium internal memungkinkan perusahaan mengendalikan kualitas, waktu pengerjaan, serta biaya dibandingkan jika seluruh proses menggunakan pihak eksternal.

Model bisnis ini dirancang agar setiap unit usaha saling mendukung operasional jaringan klinik. “Strateginya itu terintegrasi. Satu support yang lain. Jadi yang paling penting bagi kami sebagai bisnis adalah grup secara keseluruhan,” imbuh Satria.

Penambahan Tenaga Medis dan Standar Pelayanan

Terkait ekspansi jaringan, penambahan tenaga medis menjadi hal penting. Menurut VP Medical Affairs SATU Dental Group, drg. Melissa Delania, Sp.Pros., perekrutan dokter saat ini banyak berasal dari rekomendasi dokter yang telah bergabung. Namun, dokter yang direkomendasikan tetap harus melalui proses seleksi dan pembinaan.

Dokter baru kemudian mengikuti mentoring, pelatihan internal, serta penyelarasan standar operasional melalui SATU Dental Academy. Program ini mencakup pelatihan keterampilan klinis serta soft skill, termasuk komunikasi, empati, dan penanganan kekhawatiran pasien. Langkah ini dilakukan untuk menjaga konsistensi standar pelayanan di tengah bertambahnya jaringan klinik.