DailyFX.ID — Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengemukakan bahwa pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan sinyal pemulihan. Hal ini ditandai dengan kembalinya arus modal asing (inflow) dan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir.
“Akumulasi sepanjang tahun 2026 sampai dengan triwulan tiga, spesifik sampai dengan tanggal 11 September, sudah terjadi akumulasi inflow sebesar Rp 141,6 triliun,” ujar Suahasil dalam Konferensi Pers APBN Kita di kantor Kementerian Keuangan, Jumat (18/9/2026).
Arus modal asing tersebut tercermin pada investasi di Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan saham.
Harga Emas Perhiasan Stabil
Sementara itu, harga emas perhiasan berbagai kadar terpantau stabil pada Jumat pagi, 18 September 2026, di beberapa pedagang emas.
Bagi calon pembeli atau investor, disarankan untuk terus memantau pergerakan harga emas perhiasan yang dinamis agar dapat mengambil keputusan terbaik.
Emiten Bakrie dan Salim, BRMS, Diburu Asing
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Grup Salim, berhasil menyita perhatian investor. Saham BRMS menduduki peringkat pertama sebagai saham yang paling diburu investor asing pada periode 14-17 September 2026.
Mengacu pada data Stockbit Sekuritas, saham emiten tambang emas ini mencetak *net buy* investor asing sebesar Rp 303,29 miliar dalam periode tersebut. Harga sahamnya pun tercatat melonjak 8,89% pekan ini. Pada perdagangan Kamis (17/9/2026), saham BRMS ditutup naik 0,68% ke level Rp 735.
Akuisisi Saham Bayan Resources (BYAN)
Low Tuck Kwong, yang sebelumnya merupakan orang terkaya keempat di Indonesia menurut Forbes dan pengendali PT Bayan Resources Tbk (BYAN) per Maret 2026, dikabarkan telah sepakat menjual saham BYAN kepada pengusaha asal Kalimantan Selatan, Haji Isam.
Rumor akuisisi ini sempat dibantah oleh manajemen BYAN dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) pada 20 Agustus 2026, di mana PGUN disebut-sebut sebagai kendaraan Haji Isam. Namun, kabar tersebut ternyata terbukti benar.
Direktur Bayan Resources, Jenny Quantero, mengungkapkan bahwa Low Tuck Kwong dan Elaine Low telah bersepakat menjual saham BYAN ke PT Jhonlin Baratama.
Kondisi Saham HM Sampoerna (HMSP)
Saham emiten rokok PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami pelemahan signifikan, longsor 10,96% sepanjang pekan berjalan 14-17 September 2026. Uniknya, di tengah pelemahan tersebut, saham HM Sampoerna justru banyak diserap investor asing.
Tercatat, pada periode 14-17 September 2026, investor asing membukukan *net buy* di saham HM Sampoerna senilai Rp 19,72 miliar. Angka ini berbanding terbalik dengan tiga pekan sebelumnya, di mana investor asing secara konsisten mencatatkan *net sell* pada saham ini.
Ikuti DailyFX.ID
