— JAKARTA – Low Tuck Kwong kembali menempati posisi puncak sebagai orang terkaya di Indonesia, sebagaimana tercatat dalam The Real Time Billionaires List Forbes. Perubahan ini terjadi setelah kekayaan pendiri PT Bayan Resources Tbk (BYAN) tersebut mengalami lonjakan signifikan.

Berdasarkan data per Jumat malam (18/9/2026), nilai kekayaan bersih Low Tuck Kwong meningkat US$ 2,9 miliar atau setara 18%, menjadikannya mencapai US$ 19 miliar atau sekitar Rp 337,1 triliun. Dengan peningkatan ini, Low Tuck Kwong berhasil mengungguli Prajogo Pangestu dan Robert Budi Hartono, kembali ke peringkat teratas daftar orang terkaya di Indonesia.

Kenaikan drastis harta Low Tuck Kwong tidak terlepas dari pergerakan harga saham BYAN di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada Jumat (18/9/2026), saham BYAN melonjak hampir menyentuh batas auto reject atas (ARA) sebesar 19,96%, ditutup pada level Rp 13.825 per saham.

Pergerakan positif saham BYAN ini terjadi setelah PT Jhonlin Baratama, yang terafiliasi dengan Haji Isam, menyatakan kesiapannya mengakuisisi 30% saham Bayan Resources. Kesepakatan ini mencakup pembelian 10.000.000.500 saham BYAN dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low.

Setelah Low Tuck Kwong, peringkat kedua orang terkaya di Indonesia ditempati oleh Prajogo Pangestu, pemilik Grup Barito Pacific, dengan kekayaan bersih US$ 16,4 miliar atau Rp 290,9 triliun. Posisi ketiga diisi oleh Robert Budi Hartono, pemilik Grup Djarum yang mengendalikan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dengan total kekayaan US$ 15,9 miliar atau Rp 282,1 triliun.

Daftar sepuluh besar orang terkaya Indonesia berlanjut dengan Anthoni Salim di peringkat keempat (US$ 10,9 miliar), Tahir & keluarga di peringkat kelima (US$ 9,4 miliar), Sri Prakash Lohia di peringkat keenam (US$ 8,8 miliar), dan Otto Toto Sugiri di peringkat ketujuh (US$ 8,3 miliar). Marina Budiman menempati peringkat kedelapan (US$ 6 miliar), Lim Hariyanto Wijaya Sarwono kesembilan (US$ 5,1 miliar), dan TP Rachmat kesepuluh (US$ 4,8 miliar).

Analisis Pasar dan Risiko BYAN

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa pasar saat ini melihat dua narasi berbeda terkait BYAN. Di satu sisi, aksi korporasi yang melibatkan Jhonlin membuka ekspektasi sinergi bisnis dan potensi re-rating. Namun, di sisi lain, risiko fundamental terkait belum rampungnya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) masih menjadi bayangan.

Menurut Liza, lonjakan harga saham BYAN lebih mencerminkan euforia aksi korporasi ketimbang perbaikan proyeksi laba. Pasar masih menanti tiga pemicu utama: persetujuan RKAB, keterbukaan harga transaksi 30% saham, dan kejelasan struktur pengendali pasca-transaksi.

Tiga anak usaha Bayan Resources, yaitu PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, belum mendapatkan persetujuan revisi RKAB untuk tahun 2026. Kondisi ini menyebabkan ketidakpastian volume produksi dan memaksa perseroan menyatakan force majeure terhadap sebagian kewajiban pasokan.

Sebelumnya, Moody’s telah menurunkan outlook BYAN dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat Ba1 tetap dipertahankan. Jika revisi kuota tidak disetujui, Moody’s memperkirakan produksi 2026 hanya mencapai sekitar 39 juta ton, menurun dari sekitar 68 juta ton pada 2025. Dampaknya, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) diproyeksikan turun dari sekitar US$ 1,1 miliar menjadi US$ 700 juta pada 2026, bahkan bisa menyentuh US$ 400–500 juta pada 2027 jika produksi tetap di kisaran 39 juta ton.

Meskipun demikian, fundamental BYAN sebelum isu RKAB terindikasi solid. Pada semester I-2026, pendapatan perseroan naik 7,3% menjadi US$ 1,74 miliar dan laba bersih tumbuh 17,5% menjadi US$ 410 juta. Moody’s juga memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA tetap di bawah 0,5 kali.

Liza menambahkan bahwa persetujuan revisi RKAB akan menjadi katalis penting yang berpotensi mengurangi risiko terbesar terhadap produksi dan laba di tahun 2026–2027. Namun, belum ada indikasi bahwa masuknya Jhonlin berkaitan langsung dengan proses evaluasi RKAB oleh pemerintah.