DailyFX.ID — JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpeluang menembus level 6.550 pada perdagangan Jumat, 18 September 2026. Phintraco Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG akan berada dalam rentang resistance 6.550, pivot 6.500, dan support 6.400.
Perkiraan ini didasarkan pada penutupan IHSG pada hari sebelumnya yang menguat 0,4% ke level 6.462,43. Secara teknikal, IHSG masih mampu bertahan di atas level 6.400. Indikator Stochastic RSI juga menunjukkan formasi Golden Cross di area oversold.
“Dengan demikian, IHSG hari ini diprediksi cenderung menguat menguji level 6.500-6.550. Koreksi harga minyak diperkirakan menjadi faktor positif,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (18/9/2026).
Selain pergerakan IHSG, Phintraco Sekuritas juga menyoroti pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengenai batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). DPR saat ini tengah menjalankan Revisi Undang-Undang Keuangan Negara, termasuk membahas batas defisit APBN tersebut.
Pemerintah selama ini mengacu pada UU No 17/2023 tentang Keuangan Negara yang menetapkan defisit APBN maksimal 3% dari PDB. Phintraco Sekuritas menilai, jika batas defisit ini dinaikkan, maka potensi dampak positifnya adalah memberikan fleksibilitas lebih bagi pemerintah dalam membiayai berbagai program.
Risiko Fiskal Mengintai
Namun, Phintraco Sekuritas mengingatkan adanya potensi risiko yang perlu diwaspadai. Kenaikan batas defisit dapat berimplikasi pada potensi peningkatan utang dan beban bunga pemerintah. Hal ini juga dikhawatirkan dapat memengaruhi penyerapan Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah maupun obligasi korporasi dari sektor swasta.
“Selain itu, investor global dan lembaga pemeringkat internasional dapat memandang disiplin fiskal Indonesia melemah. Hal ini berpotensi memicu penurunan peringkat kredit, arus keluar modal (capital outflow), dan pelemahan nilai tukar Rupiah,” papar Phintraco Sekuritas.
Sebelumnya, Indonesia pernah menaikkan batas defisit APBN di atas 3% PDB, namun hal tersebut dilakukan dalam kondisi luar biasa seperti pada masa pandemi COVID-19 di tahun 2020-2022. Rata-rata defisit fiskal negara-negara ASEAN sendiri berada di kisaran 3-4,2% dari PDB pada tahun 2026.
Menyikapi kondisi pasar, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham yang berpotensi memberikan keuntungan. Saham-saham tersebut adalah BYAN, DSSA, CUAN, ADRO, PTRO, dan ADMR.
Ikuti DailyFX.ID
