— JAKARTA – Upaya pemerintah dalam membenahi ekosistem pertimahan Indonesia mulai membuahkan hasil konkret. Setelah bertahun-tahun bergulat dengan persoalan tata kelola dan maraknya aktivitas pertambangan ilegal, langkah-langkah perbaikan ini tercermin dalam perubahan kinerja PT Timah Tbk (TINS).

Perhatian terhadap isu pertimahan ini bahkan menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pidato kenegaraan pada 14 Agustus 2026, Presiden secara spesifik menyoroti penertiban tambang timah ilegal di Bangka Belitung sebagai upaya menjaga kekayaan nasional agar manfaat ekonominya kembali ke negara dan masyarakat.

“Akhir tahun lalu, kita telah tutup 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung. Dampaknya, keuntungan bersih PT Timah dalam 6 bulan pertama tahun 2026 mencapai Rp2,7 triliun, 9 kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp300 miliar,” ujar Presiden Prabowo belum lama ini.

Seiring dengan upaya pembenahan eksternal, perusahaan juga melakukan penyegaran internal. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Mei 2025, jajaran manajemen PT Timah Tbk mengalami perubahan, termasuk penunjukan Restu Widiyantoro sebagai Direktur Utama dan Agus Rohman sebagai Komisaris Utama/Independen.

Perubahan kepemimpinan ini dinilai memberikan dampak positif dalam memperbaiki tata kelola perusahaan serta mengamankan aktivitas pertambangan di wilayah operasinya. Kedua figur baru tersebut membawa pengalaman panjang dalam organisasi yang menekankan kedisiplinan, pengawasan, dan pengelolaan operasi lapangan, yang diharapkan mampu memperkuat tata kelola dan bisnis proses TINS.

Satu tahun pasca penguatan tata kelola, kinerja keuangan TINS menunjukkan pertumbuhan signifikan. Sepanjang semester I-2026, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp10,42 triliun, melonjak 146,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara tahunan. Laba bersih tumbuh jauh lebih pesat, mencapai Rp2,72 triliun atau meningkat 804,7%.

Pada periode yang sama, produksi bijih timah meningkat 74,8% menjadi 12.232 ton, sementara volume penjualan naik 85,1% menjadi 10.984 ton. Peningkatan ini menunjukkan bahwa perbaikan yang terjadi tidak hanya terbatas pada aspek penertiban, tetapi juga merambah pada aktivitas operasional yang kian membaik.

Presiden Prabowo juga menyebutkan bahwa valuasi PT Timah pada Agustus 2026 telah meningkat 280% dibandingkan Agustus tahun sebelumnya. Perubahan positif ini turut disambut baik oleh pasar modal. Hingga Jumat (21/8), saham TINS telah menguat 29,58% sejak awal tahun dan ditutup pada Rp4.030 per saham. Penguatan ini mengindikasikan bahwa investor mulai memperhitungkan perbaikan fundamental dan prospek perusahaan dalam valuasi sahamnya.

Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Andhika Audrey, melihat bahwa capaian semester pertama belum menjadi puncak pemulihan. Laba bersih TINS selama enam bulan pertama telah mencapai 80,7% dari proyeksi setahun penuh mereka dan 92,6% dari konsensus.

“Kami melihat TINS memasuki fase operasional yang lebih kuat. Dengan risiko gangguan operasional yang semakin mereda dan tambahan kapal produksi yang mulai beroperasi, masih terdapat ruang bagi pemulihan produksi hingga akhir tahun,” ujar Andhika dalam risetnya. Keyakinan ini mendorong BRIDS menaikkan estimasi laba bersih TINS 2026 sebesar 34,1% menjadi Rp4,51 triliun, dengan proyeksi pendapatan Rp22,83 triliun dan EBITDA Rp6,81 triliun.

BRIDS mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga yang dinaikkan dari Rp4.500 menjadi Rp4.800 per saham. “Kami tetap mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga yang dinaikkan menjadi Rp4.800 per saham. Dengan harga timah yang tetap tinggi, cash margin yang resilien, dan visibilitas operasional semester II yang semakin baik, kami masih melihat upside yang menarik meskipun menggunakan asumsi volume yang lebih konservatif,” jelas Andhika.