— JAKARTA – Polytron memperkuat strategi bisnis perangkat rumah tangga dengan mengandalkan inovasi produk, penyesuaian terhadap perubahan perilaku konsumen, serta pendekatan pemasaran lintas generasi untuk menjaga relevansi di tengah persaingan industri elektronik. Perusahaan yang berdiri di Kudus pada tahun 1975 itu sejak awal dibangun dengan keyakinan bahwa merek lokal memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan konsumen Indonesia.

General Manager Corporate Communications Polytron, Diantika, mengungkapkan bahwa filosofi awal perusahaan adalah memanfaatkan kemampuan, tenaga kerja, dan sumber daya manusia lokal untuk menciptakan merek sendiri. “Waktu itu belum banyak merek lokal yang kuat. Kami berpikir, kita punya kemampuan, tenaga kerja, dan sumber daya manusia. Kenapa tidak membuat brand sendiri untuk memenuhi kebutuhan konsumen Indonesia,” ujarnya di sela acara “Polytron Fest 51st Anniversary,” di Jakarta, Sabtu (19/09/2026).

Menurut Diantika, kemampuan membaca perubahan kebutuhan konsumen menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan bisnis selama lebih dari lima dekade. Perusahaan menggunakan pendekatan strategi 3i, yakni Invention, Innovation, dan Improvement, untuk mengembangkan produk sesuai perubahan gaya hidup dan teknologi. “Intinya, kami terus mendengar konsumen maunya apa. Teknologi yang kami hadirkan harus sesuai dengan kebutuhan mereka,” katanya.

Diantika mencontohkan, pada periode sebelumnya perusahaan pernah mengembangkan kulkas dengan fungsi yang disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga ketika microwave belum banyak digunakan. Pendekatan serupa kini diterapkan pada pengembangan perangkat yang mengandalkan otomatisasi dan kemudahan penggunaan, termasuk pendingin udara dengan fitur perintah suara.

Ikuti Perubahan Perilaku Konsumen

Dalam rangkaian peringatan 51 tahun perusahaan, Polytron memperkenalkan AC Neuva Pro dengan fitur Voice Sense, yang memungkinkan sejumlah fungsi perangkat dikendalikan melalui perintah suara tanpa membutuhkan koneksi internet. Sistem tersebut memproses perintah secara offline, sehingga fungsi dasar seperti menyalakan perangkat atau mengatur kondisi suhu dapat dilakukan tanpa bergantung pada jaringan.

“Pengembangan fitur tersebut mencerminkan arah industri perangkat rumah tangga yang makin menggabungkan fungsi utama produk dengan kemudahan interaksi berbasis teknologi. Bagi Polytron, inovasi pada perangkat rumah tangga juga menjadi bagian dari strategi mempertahankan daya saing di tengah perubahan pola konsumsi,” ucapnya. Perusahaan saat ini memiliki portofolio produk yang mencakup televisi, lemari pendingin, AC, dispenser, perangkat audio, oven listrik, laptop, monitor, hingga kendaraan listrik. Lewat diversifikasi, perusahaan tidak hanya bergantung pada satu kategori produk, sekaligus membuka peluang menjangkau kebutuhan konsumen pada berbagai aktivitas sehari-hari.

Gen Z Jadi Tantangan Pemasaran

Selain inovasi produk, Polytron juga menyesuaikan strategi pemasarannya untuk menjangkau konsumen yang lebih muda. Menurut Diantika, generasi milenial dan kelompok usia yang lebih tua relatif sudah mengenal merek tersebut. Tantangannya adalah bagaimana perusahaan membangun relevansi di kalangan Gen Z.

Untuk itu, perusahaan memanfaatkan kanal komunikasi yang lebih dekat dengan generasi muda, antara lain festival, konser, media sosial, dan podcast. “Dari sisi produk ada, dari sisi strategi komunikasinya juga ada. Itu yang kami upayakan agar Polytron tetap menjadi pilihan konsumen Indonesia,” ujarnya. Dalam perayaan tahun ini, perusahaan menggandeng grup musik MALIQ & D’Essentials sebagai bagian dari kampanye “Bangga Terus Melangkah”. Kolaborasi tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari strategi brand engagement untuk memperluas interaksi dengan konsumen lintas generasi, di luar pola pemasaran produk secara konvensional.

Diantika mengakui perjalanan bisnis selama lebih dari lima dekade tidak terlepas dari perubahan kondisi ekonomi, kompetisi pasar, serta pergeseran daya beli masyarakat. Kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis. Perusahaan juga perlu menyesuaikan portofolio produk dengan kebutuhan dan kemampuan konsumen. Tidak semua konsumen membutuhkan perangkat dengan fitur paling lengkap atau teknologi paling tinggi.

Dalam kondisi tersebut, variasi lini produk dan tingkat harga menjadi salah satu pendekatan untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Strategi ini memungkinkan produsen mempertahankan konsumen yang membutuhkan fitur dasar dengan harga lebih terjangkau, sekaligus tetap menawarkan produk berteknologi lebih tinggi untuk segmen lain.

Perluas Ekosistem Lewat UMKM dan Pendidikan

Selain bisnis inti, Polytron juga menjalankan program yang melibatkan UMKM dan sektor pendidikan. Dalam program “5.100 Langkah Baik” bersama Kitabisa.com, perusahaan mengaitkan aktivitas masyarakat di media sosial dengan dukungan berupa beasiswa pendidikan dan bantuan peralatan usaha bagi UMKM. Setiap partisipasi yang memenuhi mekanisme program akan dikonversikan menjadi donasi Rp51.000.

Untuk sektor UMKM, dukungan mencakup peralatan yang dapat digunakan dalam kegiatan usaha, sedangkan pada bidang pendidikan perusahaan menyalurkan perangkat seperti laptop dan monitor kepada sekolah. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas hubungan perusahaan dengan ekosistem di luar konsumen akhir. Bagi industri perangkat rumah tangga, strategi semacam ini juga memperlihatkan pergeseran pendekatan bisnis dari sekadar menjual produk menjadi membangun keterikatan konsumen melalui inovasi, komunitas, dan kolaborasi.

Setelah 51 tahun beroperasi, tantangan Polytron berikutnya tidak hanya mempertahankan pengenalan merek, tetapi juga memastikan lini produknya tetap relevan dengan perubahan teknologi, daya beli, serta pola konsumsi generasi baru.