— JAKARTA – Pemerintah mendorong industri furnitur nasional untuk memperluas jangkauan pasar ekspor. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada pasar tunggal dan memperkuat ketahanan industri di tengah ketidakpastian ekonomi global, melalui perluasan jaringan pembeli internasional serta pembukaan pasar baru.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa industri furnitur memiliki potensi besar untuk meningkatkan pangsa pasar global. Penguatan kualitas, desain, keberlanjutan produk, promosi dagang, dan perluasan jaringan dengan pembeli internasional menjadi kunci utamanya.

Kinerja perdagangan furnitur Indonesia mencatat surplus sejak 2021. Pada tahun lalu, nilai ekspor furnitur mencapai sekitar US$ 2,2 miliar, dengan impor senilai US$ 1,9 miliar, menghasilkan surplus sekitar US$ 473 juta. Indonesia saat ini berada di peringkat ke-25 sebagai eksportir furnitur dunia.

Pasar Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor furnitur Indonesia, menyerap sekitar 60% dari total ekspor. Namun, diversifikasi pasar ekspor dinilai perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan tersebut. Pameran Indonesia International Furniture Expo and Craft Fair (IFFINA) 2026 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperluas akses pasar internasional.

“Penyelenggaraan IFFINA menjadi salah satu cara memitigasi risiko dengan memperluas pasar, membangun hubungan dengan pembeli internasional, serta mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar-pasar tertentu,” ujar Airlangga secara virtual saat pembukaan IFFINA 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, Banten, Kamis (24/9/2026).

Airlangga menambahkan bahwa perubahan selera konsumen global menuntut industri furnitur untuk terus berinovasi dalam desain dan material. Tren permintaan saat ini semakin mengarah pada produk fungsional dengan penggunaan material yang ramah lingkungan. “Desain furnitur harus terus dikembangkan mengikuti perubahan selera pasar,” katanya.

Indonesia memiliki basis bahan baku yang cukup besar untuk mendukung pengembangan industri furnitur, termasuk produksi kayu bulat nasional yang tercatat sekitar 7,46 juta meter kubik pada 2024. Potensi rotan juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Tantangan Industri Kecil

Meskipun peluang ekspor besar, struktur industri furnitur nasional masih didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM). Sekitar 99,9% dari 4,45 juta unit usaha industri merupakan IKM, yang berkontribusi menyerap sekitar 65,52% tenaga kerja.

Skala industri yang didominasi IKM ini menghadapi tantangan seperti keterbatasan teknologi dan produktivitas. Pelaku industri juga dituntut memenuhi standar, sertifikasi, serta beradaptasi dengan perubahan selera konsumen di negara tujuan ekspor.

Untuk meningkatkan daya saing, pemerintah menyiapkan berbagai dukungan, termasuk insentif fiskal, akses pembiayaan bagi industri padat karya, serta program restrukturisasi mesin dan peralatan. Program-program ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri, sekaligus memperkuat kemampuan pelaku usaha menembus pasar ekspor.

Pemerintah juga mendorong peningkatan nilai tambah produk di dalam negeri melalui penguatan standar produk dan kebijakan pengendalian ekspor bahan baku kayu. Airlangga berharap kebijakan ini dapat dimanfaatkan pelaku industri, termasuk IKM, untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar.

“Semoga pameran ini menghasilkan orientasi dagang, kemitraan, kolaborasi, dan perluasan akses pasar internasional bagi produk-produk Indonesia,” ujar Airlangga, mengapresiasi penyelenggaraan pameran industri furnitur yang mempertemukan pelaku usaha nasional dengan pembeli, importir, dan investor internasional.

Penguatan Rantai Pasok

Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Dedy Rochimat menekankan pentingnya penguatan rantai pasok untuk meningkatkan daya saing industri furnitur nasional. Daya saing tidak hanya ditentukan oleh produk jadi, tetapi juga oleh kekuatan bahan baku, efisiensi industri, teknologi, desain, logistik, dan akses pasar.

“Daya saing industri furnitur tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Ketika bahan baku kuat, industri efisien, teknologi berkembang, desain baik, logistik kompetitif, dan akses pasar terbuka, produk furnitur Indonesia akan semakin mampu bersaing di pasar dunia,” ujar Dedy.

Indonesia memiliki modal berupa sumber daya alam, kemampuan *craftsmanship*, serta desainer dan pengusaha kreatif yang mendukung pengembangan industri furnitur. Ekspor furnitur hingga Juli 2024 relatif stabil, namun impor meningkat jauh lebih tinggi sebesar hampir 40%.

Dedy menambahkan bahwa tingginya impor menunjukkan pasar Indonesia masih menarik bagi produsen furnitur global. Di sisi lain, kondisi pasar ekspor yang belum kuat membuat pelaku industri mulai menggarap pasar domestik. Asmindo kini menggabungkan proyek ekspor dengan proyek lokal.

Pasar lokal masih memiliki ruang pertumbuhan signifikan dari proyek pemerintah, perusahaan swasta, hingga investasi perusahaan multinasional. Segmen ruang keluarga menjadi yang terbesar di pasar produk rumah tangga, diikuti oleh furnitur ruang makan dan kamar tidur.

Indonesia belum terlalu kuat bersaing dengan China dan Vietnam untuk produk massal. Namun, produk *handmade* dan furnitur dengan desain unik menjadi keunggulan Indonesia. “Kalau kita konsentrasi ke *uniqueness* aja, lumayan ya, bisa bersaing lah. Apalagi yang *handmade*,” ujar Dedy.

Keunggulan ini didukung oleh ketersediaan rotan, bambu, dan kayu sebagai material lokal. Dedy juga melihat peluang dari masuknya investasi baru ke Indonesia, yang berpotensi meningkatkan permintaan furnitur lokal, terutama untuk pembangunan kantor dan fasilitas baru.

Gabungkan Tiga Pameran

Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect (IMMFC) menghadirkan tiga pameran secara bersamaan di NICE, PIK 2, Jakarta: interzum jakarta, International Hardware Fair Indonesia (IHF Indonesia), dan IFFINA+ powered by imm cologne. Ketiganya berlangsung pada 24-27 September 2026. Sementara itu, IFMAC WOODMAC, yang juga bagian dari IMMFC, berlangsung pada 23-26 September 2026 di JIExpo Kemayoran.

Rangkaian pameran ini mempertemukan pelaku industri material, komponen, perangkat keras, hingga furnitur jadi dalam satu *platform* bisnis. Managing Director dan Regional President Asia-Pacific Koelnmesse Mathias Kuepper menyatakan bahwa penyelenggaraan pameran dalam satu rangkaian bertujuan membangun ekosistem industri furnitur yang lebih terintegrasi.

“Melalui *joint venture* baru kami, Nine Koeln Indonesia, kami membangun platform yang lebih terintegrasi dan menghubungkan rantai nilai furnitur, mulai dari material hingga produk jadi,” ujar Kuepper.

Interzum Jakarta menampilkan material dan komponen dalam tiga segmen: *Material & Nature*, *Function & Components*, serta *Textile & Upholstery*. IHF Indonesia menampilkan perangkat keras dan peralatan, termasuk *tools*, *fasteners*, dan alat pelindung diri. Sementara itu, IFFINA+ powered by imm cologne menyajikan furnitur jadi dan produk interior, dengan porsi lebih besar pada furnitur untuk sektor *hospitality* pada 2026.

Peserta internasional berasal dari China, Hong Kong, Singapura, India, Turki, dan Taiwan. Penyelenggara menargetkan sekitar 15.000 pengunjung melalui pameran dan program *Hosted Buyer Programme*.