— Pemerintah tengah mengkaji kemungkinan untuk membatasi distribusi bahan bakar minyak (BBM) subsidi bagi masyarakat yang masuk dalam kelompok desil 10. Langkah ini bertujuan agar BBM subsidi dapat dinikmati oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Dalam rencana tersebut, masyarakat yang termasuk dalam kelompok desil 9 dan 10 tidak akan lagi diperkenankan mengonsumsi BBM subsidi. Mereka akan diarahkan untuk beralih menggunakan BBM non-subsidi.

“Tidak diperketat, cuma akan dipastikan nanti yang saya tahu ya, supaya tepat sasaran. Mungkin kita akan coba nanti berapa bulan ke depan, yang desil 10, kita batasi dulu,” ungkap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Sebagai informasi, desil merupakan sebuah ukuran statistik yang digunakan untuk membagi data yang telah diurutkan menjadi sepuluh bagian yang sama. Dalam konteks ini, desil tidak hanya berfungsi sebagai pembagian data secara statistik, tetapi juga digunakan untuk mengelompokkan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan ekonomi mereka.

Purbaya menambahkan bahwa pemerintah masih dalam proses perhitungan potensi penghematan anggaran negara yang dapat dicapai setelah pembatasan penggunaan BBM subsidi diterapkan bagi masyarakat di luar desil 10.

“Kami masih menghitung, nanti ada penghematan. Kira-kira sepersepuluhnya, hampir flat kok,” terang Purbaya.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Keuangan, realisasi anggaran untuk pos subsidi dan kompensasi hingga semester I-2026 telah mencapai angka Rp 233 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 44,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Rinciannya, realisasi subsidi mencapai Rp 116 triliun, sementara kompensasi sebesar Rp 116,9 triliun.

Realisasi subsidi dan kompensasi pada semester I-2026 mengalami peningkatan signifikan sebesar 44,4% dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama di tahun 2025, yang tercatat sebesar Rp 161,4 triliun. Peningkatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), pergerakan nilai tukar rupiah, serta adanya peningkatan volume konsumsi bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan listrik bersubsidi.

Selain itu, realisasi penyaluran barang bersubsidi hingga semester I-2026 juga menunjukkan tren peningkatan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan volume penyaluran BBM tercatat sebesar 7,8%, volume LPG 3 Kg naik 2,0%, jumlah pelanggan listrik bersubsidi bertambah 2,1%, volume pupuk meningkat 21,4%, dan jumlah debitur Kredit Usaha Rakyat (KUR) naik 3,6%.