— Tim SAR Gabungan memperluas area pencarian korban kecelakaan KMP Virgo di Perairan Laut Jawa pada hari kelima operasi. Upaya ini dilakukan untuk menjangkau titik-titik yang belum tersisir sebelumnya dan mempercepat penemuan korban yang masih hilang.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, menyatakan bahwa Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melalui Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Kelas II Tanjung Perak mengerahkan Kapal Negara Patroli KN Grantin P. 211 untuk mendukung operasi ini. Kapal tersebut berangkat pada pukul 07.00 WIB membawa 16 personel, termasuk ABK dan tim penyelam kualifikasi scuba, serta dilengkapi peralatan selam, kantong jenazah, obat-obatan, dan logistik. KN Grantin diperkirakan tiba di lokasi pada tengah malam.

Hingga kini, dari total 243 orang dalam manifes KMP Virgo, 114 orang telah berhasil ditemukan. Rinciannya, 108 orang selamat dan 6 orang meninggal dunia. Sebanyak 129 orang masih dalam proses pencarian.

Kementerian Perhubungan memprioritaskan tiga aspek dalam penanganan musibah ini. Pertama, fokus pada pencarian dan pertolongan korban. Kedua, memberikan pendampingan kepada keluarga korban, termasuk penyediaan informasi resmi, layanan kesehatan, dan pengurusan hak-hak lain seperti santunan asuransi. Ketiga, mendukung penuh proses investigasi yang sedang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Masyhud menjelaskan bahwa pemerintah telah menerapkan mekanisme pemeriksaan dan sertifikasi keselamatan yang ketat. Proses ini meliputi pengedokan, pemeriksaan klas, pemeriksaan mandiri oleh perusahaan dan awak kapal, uji petik kapal penumpang, pengawasan pemuatan, pemantauan cuaca, hingga verifikasi sebelum penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Ia menekankan pentingnya kualitas pelaksanaan dan penyelesaian temuan di lapangan, bukan sekadar keberadaan dokumen.

Menyikapi potensi cuaca buruk, Ditjen Perhubungan Laut sebelumnya telah menerbitkan Surat Imbauan Nomor UM.006/29/17/DJPL/2026 mengenai Kewaspadaan Kondisi Cuaca Buruk di Laut. Surat ini ditujukan kepada syahbandar, nakhoda, operator kapal, pemilik kapal, dan seluruh pemangku kepentingan terkait.

Surat imbauan tersebut menginstruksikan nakhoda untuk terus memantau perkembangan cuaca, memanfaatkan perangkat navigasi untuk mendeteksi perubahan kondisi, memilih rute yang lebih aman, mengamankan muatan dan peralatan, serta segera melapor kepada syahbandar terdekat jika terjadi kondisi darurat. Jika cuaca memburuk setelah kapal berlayar, nakhoda diinstruksikan untuk mencari perairan yang tenang atau pelabuhan terdekat dan tidak memaksakan diri untuk terus berlayar demi menjaga keselamatan kapal, awak, penumpang, dan muatan.

Masyhud menegaskan komitmen Ditjen Perhubungan Laut untuk terus mendukung penuh operasi SAR gabungan hingga seluruh korban ditemukan. Ia juga mengimbau keluarga korban untuk memantau informasi resmi melalui posko gabungan yang telah didirikan di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, dan Kantor SAR Kelas A Banjarmasin.