— PT Adaro Indonesia Tbk (AADI) diproyeksikan akan mulai membukukan laba bersih dari bisnis penyewaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara kepada perusahaan afiliasinya, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Perolehan laba dari sewa PLTU ini diperkirakan akan menjadi katalis tambahan untuk penguatan saham AADI.

Menurut laporan riset UOB Kay Hian Sekuritas, PLTU berkapasitas 1 gigawatt (GW) tersebut dijadwalkan mulai menghasilkan pendapatan pada pertengahan 2026. Jadwal ini lebih cepat dari rencana awal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik smelter aluminium milik ADMR.

Saat ini, sebanyak 72 potline smelter PT Kalimantan Aluminum Industry (KAI), yang merupakan anak usaha ADMR, telah beroperasi. Target produksi KAI adalah 370 ribu ton dengan penjualan 340 ribu ton. Untuk tahun mendatang, produksi ditargetkan meningkat menjadi 500 ribu ton, sesuai dengan kapasitas terpasang.

“Pada kuartal II-2026, laba bersih dari bisnis sewa PLTU AADI diprediksi mencapai US$22 juta. Angka ini berpotensi meningkat menjadi US$60 juta sepanjang tahun, dan diperkirakan mencapai US$80 juta pada 2027,” tulis UOB Kay Hian dalam laporannya.

Harga Batu Bara dan Proyeksi Saham

Di sisi lain, UOB Kay Hian memperkirakan harga batu bara akan tetap berada pada level tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya gangguan pasokan serta situasi perang global. Harga batu bara tercatat mengalami kenaikan sebesar 37,7% setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat dalam konflik pada Februari 2026.

Dari sisi pasokan, fenomena El Nino menyebabkan rendahnya level air di Sungai Barito, Kalimantan Tengah. Kondisi ini menyulitkan kapal pengangkut batu bara untuk beroperasi. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memprediksi bahwa pengiriman batu bara yang seharusnya mencapai 3,9 juta ton per bulan berisiko mengalami gangguan.

Berdasarkan analisis tersebut, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham AADI. Selain itu, mereka juga menaikkan target harga saham AADI menjadi Rp14.300, dari sebelumnya Rp10.900. Potensi keuntungan yang bisa dicapai investor adalah sebesar 17,2%, jika mengacu pada harga saham saat riset tersebut dibuat.