— JAKARTA – PT Terang Dunia Internusa Tbk (UNTD), produsen sepeda dan kendaraan listrik United, mencatat penjualan neto sebesar Rp 216,62 miliar pada semester I-2026. Angka ini menunjukkan peningkatan 20,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 179,10 miliar.

Namun, rincian penjualan mengungkapkan tren yang beragam. Penjualan sepeda kepada pihak berelasi justru turun menjadi Rp 15,36 miliar dari Rp 38,65 miliar pada semester I-2025. Sementara itu, penjualan sepeda kepada pihak ketiga mengalami sedikit kenaikan dari Rp 22,57 miliar menjadi Rp 23,38 miliar. Secara total, kombinasi penjualan sepeda untuk pihak berelasi dan pihak ketiga menurun ke Rp 38,74 miliar dari Rp 61,22 miliar pada semester I-2025.

Di sisi lain, penjualan sepeda listrik kepada pihak berelasi melonjak signifikan menjadi Rp 110,28 miliar, naik dari Rp 59,51 miliar. Namun, penjualan sepeda motor listrik pihak berelasi anjlok ke Rp 6,68 miliar dari Rp 11,78 miliar, dan penjualan suku cadang pihak berelasi terjun bebas dari Rp 29,94 miliar menjadi Rp 2,22 miliar.

Untuk penjualan pihak ketiga, sepeda motor listrik mencatatkan penguatan luar biasa dari Rp 5,35 miliar menjadi Rp 46,48 miliar. Penjualan sepeda listrik pihak ketiga melemah ke Rp 4,02 miliar dari Rp 8,03 miliar, sementara penjualan suku cadang pihak ketiga menguat ke Rp 8,15 miliar dari Rp 3,25 miliar.

Beban Pokok Penjualan Membengkak

Di tengah fluktuasi penjualan, beban pokok penjualan (HPP) PT Terang Dunia Internusa mengalami lonjakan drastis sebesar 68,8%. HPP membengkak menjadi Rp 218,44 miliar pada Januari-Juni 2026, berbanding terbalik dengan Rp 129,39 miliar pada semester pertama tahun lalu.

Pembengkakan HPP ini berdampak langsung pada laba bruto perusahaan. UNTD mencatat rugi bruto sebesar Rp 1,82 miliar pada semester I-2026, berbanding terbalik dengan laba bruto Rp 49,71 miliar yang diraih pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dampak lebih luas terlihat pada laba bersih periode berjalan. Perusahaan membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp 55,81 miliar di semester I-2026. Angka ini merupakan kemunduran signifikan dari laba Rp 790,96 juta yang tercatat pada semester I-2025.

Penyesuaian Harga Jual dan Faktor Eksternal

Direktur Terang Dunia Internusa, Andrew Mulyadi, menjelaskan bahwa kenaikan HPP yang jauh melampaui kenaikan penjualan disebabkan oleh peningkatan biaya perolehan barang serta penyesuaian harga jual beberapa produk.

“Kondisi tersebut menyebabkan tekanan yang signifikan terhadap margin bruto dan pada akhirnya mengakibatkan rugi bruto,” ujar Andrew.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan HPP meliputi lonjakan harga bahan baku dan barang impor, serta biaya-biaya terkait proses impor. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing turut mempertinggi biaya perolehan barang dalam rupiah. Selain itu, kenaikan biaya logistik, *freight*, dan biaya impor lainnya turut meningkatkan *landed cost* barang.

Andrew menambahkan, situasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk dampak konflik Iran, turut memberikan tekanan pada biaya transportasi, logistik, perdagangan internasional, serta volatilitas nilai tukar. Peningkatan biaya ini menyebabkan harga pokok per unit barang yang dijual meningkat secara signifikan.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa harga jual beberapa produk perusahaan juga mengalami penurunan. Penyesuaian harga jual ini dipengaruhi oleh kondisi persaingan pasar dan strategi perusahaan untuk mempertahankan atau meningkatkan volume penjualan.

Sementara itu, saham UNTD ditutup melemah 2,50% ke Rp 78 pada perdagangan Jumat, 18 September 2026. Dalam sebulan terakhir, saham perusahaan ini telah anjlok 10,34%.