DailyFX.ID — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti realisasi investasi yang terus melesat menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto. Meskipun demikian, peningkatan ini dinilai belum diikuti oleh penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang sebanding.
Kepala Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa persoalan ini berkaitan dengan karakter investasi yang semakin banyak masuk ke sektor hilirisasi dan industri padat modal. “Dari sisi investasi, realisasinya cukup tinggi dan penyerapan tenaga kerja tetap terjadi. Namun, persoalannya adalah kualitas dan intensitas tenaga kerja,” ungkap Rizal kepada B-Universe, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, besarnya nilai investasi tidak selalu berbanding lurus dengan penciptaan lapangan pekerjaan. Investasi pada sektor padat modal cenderung membutuhkan penggunaan teknologi dan mesin yang lebih besar, sehingga kebutuhan tenaga kerja relatif lebih rendah dibandingkan nilai modal yang ditanamkan. Pola serupa juga terlihat di sektor manufaktur, di mana pertumbuhan produksi dapat berlangsung kuat tetapi penyerapan tenaga kerja tidak selalu meningkat dengan kecepatan yang sama.
Rizal menyarankan agar strategi investasi perlu menjaga keseimbangan antara pengembangan hilirisasi dan penguatan sektor-sektor yang memiliki kemampuan lebih besar dalam menyerap tenaga kerja. Sektor-sektor yang dinilai penting antara lain manufaktur padat karya, agroindustri, elektronik, tekstil dan garmen, makanan dan minuman, serta penguatan rantai pasok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan strategi yang lebih seimbang, peningkatan investasi diharapkan tidak hanya tercermin dari besarnya nilai penanaman modal, tetapi juga dari perluasan kesempatan kerja dan penguatan basis industri domestik. “Strategi investasi perlu lebih seimbang antara hilirisasi dengan penguatan manufaktur padat karya, agroindustri, elektronik, tekstil-garmen, makanan-minuman, serta rantai pasok UMKM,” pungkasnya.
Pemerintah Genjot Realisasi Investasi, Bidik Serap Jutaan Tenaga Kerja
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengungkapkan, pemerintah menargetkan realisasi investasi mencapai Rp 2.322 triliun pada tahun 2027. Target ini meningkat dibandingkan target investasi tahun sebelumnya sebesar Rp 2.041 triliun dan diharapkan dapat semakin mendorong pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja.
Pada triwulan II-2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,29% secara year-on-year (YoY). Investasi menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan dengan kontribusi sekitar 39% terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut, angka ini berada di atas kisaran normal kontribusi investasi yang umumnya sekitar 28-29%.
“Pertumbuhan ekonomi di triwulan ke-2 kemarin 2026 itu sebesar 5,29%, investasi menyumbang kurang lebih 39% dari total pertumbuhan triwulan ke-2,” ungkap Rosan dalam konferensi pers di Kantor Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jumat (14/8/2026).
Sesuai rencana kerja pemerintah 2027, target investasi Rp 2.322 triliun merupakan bagian dari sasaran investasi sekitar Rp 13.032 triliun selama periode 2025-2029. Target lima tahunan ini meningkat sekitar 143% dibandingkan capaian investasi dalam 10 tahun terakhir.
Sementara itu, realisasi investasi pada semester I-2026 telah mencapai sekitar Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2%. Investasi ini menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung, meningkat 15% dari periode sebelumnya.
“Setiap rupiah investasi harus menciptakan lapangan pekerjaan yang baik, yang berkualitas sekaligus juga memperbaiki kualitas hidup dari masyarakat kita,” pungkas Rosan.
Ikuti DailyFX.ID
