— Gelombang panas ekstrem kini semakin sering terjadi, memiliki intensitas yang lebih tinggi, serta berlangsung lebih lama. Fenomena ini merupakan dampak langsung dari perubahan iklim yang terus mendorong peningkatan suhu global. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa sejumlah wilayah di Eropa saat ini tengah menghadapi gelombang panas kelima sepanjang musim panas, yang diperparah dengan kondisi kekeringan, kebakaran hutan, dan suhu yang memecahkan rekor.

Kepala Informasi Iklim WMO, John Kennedy, menjelaskan bahwa kondisi saat ini sangat berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. “Panas ekstrem menjadi semakin sering, semakin intens, berlangsung lebih lama, dan mencakup wilayah yang jauh lebih luas dibandingkan iklim yang lebih sejuk pada masa lalu,” ujarnya dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (11/08/2026).

Menurut Kennedy, panas yang melanda Eropa dipengaruhi oleh kombinasi sistem tekanan tinggi yang bertahan lama di Belahan Bumi Utara dan kondisi iklim yang makin hangat. Sistem tekanan tinggi ini memiliki kemampuan untuk menjebak udara panas, mengurangi tutupan awan, serta menghambat masuknya udara yang lebih sejuk. Akibatnya, suhu tinggi dapat bertahan di wilayah yang luas selama berhari-hari hingga berminggu-minggu.

Kennedy menambahkan bahwa fenomena El Niño tidak menjadi faktor utama dalam gelombang panas Eropa tahun ini, mengingat kondisi di kawasan tropis Samudra Pasifik saat ini berada dalam fase netral. WMO melakukan perbandingan dengan musim panas 1976, periode ketika Eropa mengalami gelombang panas yang cukup dikenal luas.

Penjelasan Kennedy lebih lanjut menguraikan bahwa pola tekanan udara pada Juni 1976 memiliki kemiripan relatif dengan kondisi tahun ini. Namun, dampaknya berbeda secara signifikan karena suhu dasar bumi saat ini telah meningkat akibat pemanasan global selama beberapa dekade terakhir. Pada tahun 1976, hanya beberapa wilayah yang mengalami suhu di atas rata-rata dalam konteks dunia yang secara umum lebih sejuk. Kondisi berbalik saat ini, di mana sebagian besar wilayah dunia justru mencatat suhu di atas rata-rata, sementara kawasan yang lebih dingin semakin terbatas.

Selain kondisi atmosfer, suhu laut yang sangat hangat dan tanah yang kering turut memperparah gelombang panas di Eropa. Gelombang panas laut yang terjadi di Laut Mediterania dan perairan di sebelah barat Eropa menambah panas yang dirasakan di daratan. Sementara itu, tanah yang kehilangan kelembapan akan lebih cepat menyerap dan memancarkan panas.

“Banyak faktor ini terjadi secara bersamaan dan menghasilkan panas rekor yang kita lihat tahun ini,” tambah Kennedy.