— Upaya Amerika Serikat (AS) untuk menghidupkan kembali rencana pengakhiran perang di Gaza belum menunjukkan hasil signifikan. Utusan Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, meninggalkan Yerusalem pada Senin (17/08/2026) setelah dua hari bernegosiasi dengan pemimpin Israel dan Hamas. Kedua belah pihak dilaporkan masih berpegang teguh pada tuntutan utama masing-masing, sehingga belum tercapai terobosan berarti.

Kushner mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, setelah sebelumnya bertemu dengan pemimpin politik Hamas di Mesir. Rangkaian pertemuan ini bertujuan untuk mendorong kembali implementasi rencana AS yang mengalami hambatan. Demikian dilaporkan oleh Reuters pada Selasa (18/08/2026).

Israel terus melancarkan serangan udara dan memperluas wilayah kekuasaannya di Gaza, meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober. Di sisi lain, Hamas menolak untuk menyerahkan senjatanya sebelum Israel memenuhi komitmennya, termasuk menghentikan serangan dan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.

Kushner menyatakan bahwa pertemuannya dengan Netanyahu, yang berlangsung hampir empat jam, berjalan dengan baik. Ia juga menyebutkan bahwa perwakilan Hamas telah menyampaikan poin-poin yang dinilai positif.

Menurut Kushner, kemajuan awal dalam proses pengurangan senjata mungkin dapat terlihat dalam 30 hari ke depan. Selain itu, penutupan sebagian terowongan juga diharapkan dapat diselesaikan dalam kurun waktu 60 hingga 90 hari berikutnya.

Sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa Hamas telah menyetujui pelucutan senjata secara bertahap berdasarkan peta jalan 15 poin yang diajukan melalui Board of Peace. Rencana ini juga mencakup penarikan pasukan Israel dari Gaza.

Namun, pelaksanaan rencana tersebut masih terganjal perbedaan mengenai urutan langkah yang harus diambil oleh kedua pihak. Hamas menyatakan kesediaannya untuk mengikuti peta jalan tersebut, tetapi menekankan bahwa implementasinya bergantung pada Israel yang harus lebih dulu menghentikan serangan dan menarik pasukannya.

Sementara itu, Netanyahu menolak untuk menarik pasukannya sebelum Hamas sepenuhnya dilucuti. Sikap ini kembali ditegaskan dalam pertemuannya dengan Kushner.

Kushner menambahkan bahwa AS tidak akan membatasi hak Israel untuk membela diri jika menghadapi ancaman langsung. Namun, batasan mengenai kondisi yang dapat dikategorikan sebagai ancaman tersebut masih perlu diperjelas.

Seorang pejabat Board of Peace menyampaikan bahwa Israel tetap berhak bertindak jika Hamas kembali melakukan kekerasan, mencoba mempersenjatai diri, atau membangun kembali kemampuan militernya. Pejabat tersebut juga menyebutkan bahwa Hamas telah menyampaikan komitmen untuk menghentikan aktivitas militer, termasuk pengadaan senjata kembali dan pembangunan terowongan.

Di sisi lain, seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa Netanyahu menegaskan pasukan Israel tidak akan ditarik dalam waktu dekat. Militer Israel juga akan terus beroperasi sesuai kebutuhan, termasuk memburu militan Palestina yang terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023.

Rekonstruksi Menunggu Demiliterisasi

Selain isu pelucutan senjata, rekonstruksi Gaza juga menjadi salah satu topik utama dalam pembicaraan. Netanyahu dan Kushner sepakat bahwa pembangunan kembali Gaza tidak akan dimulai sebelum proses demiliterisasi Hamas dilaksanakan.

Kushner menyatakan komitmen AS terhadap rencana rekonstruksi Gaza, namun pembangunan kembali dinilai tidak akan efektif jika wilayah tersebut kembali dikuasai kelompok bersenjata atau menghadapi konflik baru. Hamas, di sisi lain, masih menuntut Israel untuk mematuhi gencatan senjata dan menarik pasukannya dari Gaza.

Perbedaan pandangan mengenai urutan pelaksanaan rencana perdamaian ini menjadi salah satu hambatan terbesar dalam perundingan.

Menurut pejabat kesehatan Gaza dan militer Israel, lebih dari 1.200 warga Palestina dan empat tentara Israel tewas di Gaza sejak Oktober lalu.

Netanyahu dan Kushner juga sepakat untuk membentuk kelompok kerja yang akan membahas pelucutan senjata. Kelompok kerja lain akan menangani masalah sanitasi, air bersih, dan kesehatan masyarakat di Gaza. Pejabat AS dan Israel sebelumnya menyatakan bahwa rekonstruksi dapat dimulai di wilayah Gaza yang berada di bawah kendali Israel atau pemerintahan teknokrat Palestina yang baru.

Sementara itu, posisi politik Netanyahu turut menjadi faktor dalam perundingan. Ia menghadapi pemilihan umum nasional pada 27 Oktober, sementara koalisi pemerintahannya tertinggal dalam sejumlah jajak pendapat. Para diplomat menilai peluang Netanyahu untuk memberikan konsesi besar terkait Gaza sebelum pemilu relatif kecil.

Kushner berada di Israel bersama utusan Board of Peace untuk Gaza, Nickolay Mladenov, setelah keduanya bertemu pemimpin politik Hamas Khalil Al-Hayya di Mesir pada Minggu (16/08/2026). Pertemuan ini menandai kali kedua Kushner diketahui bertemu perwakilan Hamas. Sebelumnya, ia bertemu pejabat Hamas bersama utusan AS Steve Witkoff pada Oktober 2025, yang berkontribusi pada kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera.