DailyFX.ID — JAKARTA – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyuarakan keberatan atas rencana pemerintah yang akan mengimpor gula mentah untuk kebutuhan konsumsi. Menurut organisasi tersebut, Indonesia telah mencapai swasembada gula konsumsi (gula kristal putih/GKP) dan bahkan surplus produksi. Impor gula mentah dikhawatirkan akan merusak pencapaian tersebut serta menekan harga gula petani lokal yang saat ini sedang dalam musim giling.
Ketua Umum DPN APTRI, Soemitro Samadikoen, menyatakan keheranannya atas kebijakan impor tersebut. “Di saat yang begini (harga pupuk nonsubsidi naik dan tidak ada penyesuaian HPP), terjadilah impor. Kami jadi heran, Kementerian Pertanian bilang harus swasembada, oke, dan memang dalam hitungan kami, Indonesia itu sudah swasembada gula konsumsi,” ujar Soemitro dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Rabu (23/09/2026).
Menurut perhitungan APTRI, total ketersediaan gula konsumsi tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta ton. Angka ini berasal dari sisa stok tahun sebelumnya sekitar 1,2 juta ton, impor tahun 2025 sebesar 200 ribu ton, dan produksi tahun 2026 minimal 2,6 juta ton. Dengan konsumsi tahunan yang mencapai 2,8 juta ton, surplus produksi diproyeksikan sekitar 1,2 juta ton.
Soemitro menjelaskan bahwa impor gula mentah yang setara dengan sekitar 150 ribu ton GKP ini akan diolah menjadi gula konsumsi. Ia menyoroti bahwa pada tahun 2025, impor gula mentah setara 200 ribu ton GKP juga telah memicu protes petani karena dampaknya terhadap harga gula mereka. “Kisah 200 ribu ton di 2025 itu hari ini ternyata terulang lagi. Ada impor lagi (gula mentah setara 150 ribu ton GKP) yang kami belum telusuri, apakah ini sudah dilaksanakan,” tuturnya.
APTRI juga memprotes karena penggilingan gula mentah menjadi GKP sebagian dilakukan oleh perusahaan swasta di Sulawesi Tenggara, padahal seharusnya semua diolah oleh BUMN. Sekjen DPN APTRI, M Nur Khabsyin, menambahkan bahwa penurunan harga gula tebu petani pada 2025 disebabkan oleh membanjirnya impor gula rafinasi dan impor gula mentah. “Kami tidak ingin situasi itu terulang lagi di tahun ini. Walaupun saat ini sudah memasuki sepertiga akhir musim giling tebu, kami tidak ingin gula kami nanti harganya turun akibat adanya impor (gula mentah setara 150 ribu ton GKP),” tegasnya.
Dalam RDPU tersebut, APTRI meminta dukungan Komisi IV DPR untuk penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) GKP menjadi Rp16.875 per kilogram (kg) dari Rp14.500 per kg. HPP tersebut berlaku sejak 2024, sementara Biaya Pokok Produksi (BPP) GKP terus meningkat setiap tahun akibat kenaikan biaya tenaga kerja, garap, sewa lahan, transportasi, dan pupuk nonsubsidi, yang kini mencapai Rp15.500 per kg. APTRI juga mendesak transparansi rendemen tebu yang dinilai cenderung rendah meskipun dalam kondisi kemarau.
Sementara itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 pada 21 September 2026, memaparkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026. Total ketersediaan gula konsumsi tahun ini diproyeksikan mencapai 4,61 juta ton, dengan rencana impor sebesar 142 ribu ton. “Secara nasional, ketersediaan pangan relatif terjaga, tekanan harga saat ini bersifat spesifik menurut komoditas dan wilayah. Fokus kita memastikan pangan tersedia, distribusi lancar, harga terkendali, petani dan peternak tetap memperoleh harga wajar serta daya beli masyarakat tetap terlindungi,” kata Hermawan.
Neraca gula konsumsi 2026 mencatat total ketersediaan 4.607.018 ton, meliputi stok awal tahun 1.446.059 ton, produksi domestik 3.018.459 ton, dan rencana impor September-Desember 142.500 ton. Kebutuhan tahunan diprediksi 2.827.412 ton, dengan target stok akhir tahun 2026 sebesar 1.779.606 ton.
Di sisi lain, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan tidak ada penambahan pasokan gula mentah (gula kristal mentah/GKM) untuk industri gula kristal rafinasi (GKR). Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa kebijakan dan volume pasokan bahan baku GKR di 2026 tetap sesuai Neraca Komoditas yang ditetapkan akhir 2025.
Kementerian Pertanian sebelumnya memperkirakan produksi GKP nasional tahun 2026 akan menembus 3,02 juta ton, meningkat sekitar 13,1% dibanding tahun 2025. Kenaikan ini didorong oleh bertambahnya luas areal tebu, peningkatan produktivitas, dan perbaikan rendemen.
Ikuti DailyFX.ID
