— Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara tegas menepis berbagai rumor dan tuduhan yang menyebutkan negaranya tengah berupaya memproduksi atau memperoleh senjata nuklir. Teguran keras ini disampaikan langsung oleh Pezeshkian menurut laporan Fox News, Jumat (25/9/2026).

Saat ditanya secara terbuka mengenai ambisi nuklir Iran, Presiden Pezeshkian memberikan jawaban singkat namun tegas. “Sama sekali tidak. Sama sekali tidak,” ujarnya menanggapi pertanyaan mengenai rumor pembuatan bom atom tersebut, Jumat.

Pezeshkian menegaskan program nuklir Iran senantiasa ditujukan untuk maksud-maksud damai. Ia menambahkan, pimpinan tertinggi Iran juga telah berulang kali mengeluarkan fatwa keagamaan yang melarang keras kepemilikan dan penggunaan senjata pemusnah massal.

Sebagai bentuk transparansi, otoritas Iran menyatakan kesiapannya untuk menurunkan tingkat pengayaan uranium dan siap membuka seluruh fasilitasnya bagi inspeksi serta verifikasi badan pengawas internasional.

Eskalasi Konflik dan Tuduhan Lokasi Rahasia

Pernyataan ini mengemuka di tengah situasi kawasan yang belum sepenuhnya stabil. Ketegangan militer antara AS, Israel, dan Iran sempat memuncak pada akhir Februari 2026 ketika terjadi saling tembak serangan balasan yang menyasar sejumlah objek strategis.

Meski sempat dicapai kesepakatan awal melalui nota kesepahaman (MoU) untuk penghentian permusuhan pada pertengahan Juni 2026, gesekan militer kembali terjadi tak lama kemudian dan membuat konflik diplomasi masih terus menggantung.

Di samping itu, pihak Barat dan AS terus melontarkan tuduhan baru terkait dugaan aktivitas nuklir di kawasan perbukitan Pickaxe Mountain (Kuh-e Kolang).

Menanggapi isu tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei membantah keras tuduhan AS pada awal September 2026. Baghaei menegaskan, tidak ada aktivitas nuklir apa pun di lokasi tersebut dan menuding tuduhan AS hanyalah dalih yang direkayasa.

Dinamika Program Nuklir Iran

Dinamika dan silang pendapat seputar program nuklir Iran memiliki rekam jejak diplomasi serta militer yang panjang. Pada 2015, Iran dan negara-negara kekuatan dunia (termasuk AS) menyetujui perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) untuk membatasi pengayaan uranium Iran dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi. Namun, keputusan AS menarik diri secara sepihak pada 2018 memicu runtuhnya kesepakatan tersebut.

Pasca-runtuhnya JCPOA, Iran secara bertahap meningkatkan kadar pengayaan uraniumnya. Meski Barat khawatir kadar tersebut mendekati tingkat persenjataan (90%), Iran selalu menegaskan seluruh aktivitasnya murni untuk kebutuhan energi dan medis.

Lokasi-lokasi strategis yang dibangun di bawah tanah, seperti di dekat Natanz dan kawasan Pickaxe Mountain, sering kali menjadi sorotan intelijen Barat. Iran berargumen, fasilitas bawah tanah diperlukan semata-mata untuk melindungi infrastruktur sipil mereka dari potensi sabotase dan serangan udara militer luar.