— COPENHAGEN – Produsen mainan asal Denmark, Lego, mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 21% pada semester pertama 2026. Kinerja positif ini ditopang oleh tingginya permintaan produk bertema Piala Dunia dan Formula 1, yang berhasil menarik minat pelanggan baru.

Pendapatan Lego selama enam bulan pertama tahun ini mencapai 41,9 miliar kroner Denmark atau sekitar US$6,54 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 34,6 miliar kroner Denmark. Laba bersih perusahaan juga melonjak 32%, menjadi 8,6 miliar kroner Denmark.

CEO Lego, Niels Christiansen, menyatakan bahwa pertumbuhan ini didukung oleh portofolio produk yang kuat dan kemampuan perusahaan dalam menjangkau segmen konsumen baru. “Portofolio produknya sangat kuat dan berhasil menjangkau minat baru pada semester pertama ini,” ujar Christiansen, seperti dikutip Reuters pada Selasa (25/08/2026).

Lebih lanjut, Christiansen mengungkapkan bahwa Lego tidak hanya mengalami peningkatan jumlah pelanggan aktif, termasuk dari kalangan anak-anak, tetapi juga peningkatan nilai pembelian dari konsumen yang sudah ada. Sepanjang semester pertama 2026, Lego telah meluncurkan lebih dari 330 set produk baru. Beberapa di antaranya adalah replika resmi trofi Piala Dunia FIFA seharga US$199,99, set Pokémon dengan balok interaktif inovatif, serta produk K-Pop Demon Hunters.

Christiansen menambahkan bahwa produk-produk baru tersebut berkontribusi dalam memperluas basis konsumen Lego, terutama dengan menarik minat kelompok pelanggan yang sebelumnya belum terjangkau secara optimal. Kinerja Lego ini juga menunjukkan keunggulan kompetitif dibandingkan sejumlah pesaing di industri mainan, seperti Mattel dan Hasbro.

Dalam beberapa tahun terakhir, Lego secara konsisten memperluas lini produknya melalui berbagai kolaborasi strategis dengan waralaba hiburan dan olahraga ternama, serta mengembangkan produk yang secara khusus ditujukan untuk konsumen dewasa.

Meskipun mengalami pertumbuhan penjualan yang pesat, Lego tetap menghadapi tantangan berupa tekanan biaya bahan baku, khususnya kenaikan harga minyak yang berdampak pada harga plastik sebagai material utama produksi balok Lego.

Christiansen memperkirakan dampak kenaikan biaya ini akan lebih terasa pada semester kedua 2026, namun sejauh ini masih dapat dikelola dengan baik. “Kami terdampak kenaikan harga minyak, tetapi karena kami membeli banyak material berbasis nonbahan bakar fosil yang korelasinya lebih rendah terhadap harga minyak, sejauh ini kami mampu mengelolanya dengan relatif baik,” jelasnya.

Menghadapi tantangan tersebut, Lego terus berupaya mengurangi ketergantungan pada material berbasis fosil dengan meningkatkan penggunaan bahan baku terbarukan dan dapat didaur ulang. Perusahaan juga gencar mendekatkan fasilitas produksinya ke pasar-pasar utama. Salah satu langkah strategisnya adalah pembangunan pabrik dan pusat distribusi baru di Virginia, Amerika Serikat, yang ditargetkan akan mulai beroperasi pada pertengahan 2027.