— PT Bumi Resources Tbk (BUMI) diprediksi akan menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan, dengan perkiraan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) selama empat tahun mencapai 23,1%. Proyeksi ini menempatkan laba bersih perusahaan di angka US$ 288,6 juta pada tahun 2030, seiring dengan munculnya target harga saham BUMI yang berpotensi naik hingga 50%.

Analis MNC Sekuritas, Raka Junico W dan Muhamad Rudy Setiawan, mengidentifikasi peningkatan kontribusi dari bisnis mineral sebagai faktor utama yang akan mendorong pertumbuhan Bumi Resources dalam beberapa tahun mendatang. “Titik akselerasi diperkirakan mulai terlihat pada 2028,” ujar Raka dan Rudy dalam risetnya.

Pada periode tersebut, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) emiten berkode saham BUMI ini diproyeksikan melonjak 71,2% secara tahunan (yoy). Kenaikan ini didorong oleh ekspansi kapasitas operasi pabrik carbon in leach (CIL) milik PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), yang merupakan fasilitas pengolahan emas menggunakan metode pelindian karbon.

MNC Sekuritas mengestimasikan pendapatan BUMI secara grup akan tumbuh dengan CAGR empat tahun sebesar 10%, mencapai US$ 2,6 miliar pada 2030. Sementara itu, EBITDA perusahaan diproyeksikan meningkat dengan CAGR 28,2% menjadi US$ 562,1 juta.

Prospek positif ini didukung oleh karakter bisnis mineral yang menawarkan tingkat keuntungan lebih tinggi dibandingkan batu bara. Meskipun pada semester I-2026 segmen mineral hanya menyumbang 12% terhadap pendapatan, kontribusinya terhadap laba operasi gabungan segmen mencapai 31,5%. “Margin segmen mineral tercatat 29,5%, sekitar tiga kali lipat dari margin bisnis batu bara yang sebesar 8,8%,” jelas Raka dan Rudy.

Para analis menilai bahwa pasar masih cenderung memandang BUMI sebagai produsen batu bara semata, padahal porsi nilai aset perseroan semakin bergeser ke bisnis mineral. Sejak 2025, Bumi Resources telah membangun sumber pertumbuhan kedua melalui serangkaian akuisisi, termasuk kepemilikan 100% pada Wolfram dan Loyal Metals, 64,98% pada Jubilee Metals, serta rencana akuisisi 45% saham Laman Mining. Pendanaan akuisisi ini bersumber dari arus kas bisnis batu bara dan penerbitan obligasi senilai Rp 1,9 triliun, tanpa penerbitan saham baru.

MNC Sekuritas juga mencatat bahwa kontribusi dari Wolfram dan Jubilee belum dimasukkan dalam proyeksi kinerja saat ini, sehingga kedua aset tersebut berpotensi menambah estimasi pendapatan di masa mendatang.

Di sisi lain, BUMI masih menguasai cadangan dan sumber daya batu bara terbesar di Indonesia dengan total 9,1 miliar ton. Aset batu bara ini tersebar di PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Arutmin Indonesia, dan Pendopo. Pada tahun 2025, volume penjualan batu bara grup diproyeksikan mencapai 74,7 juta ton.

Dari sisi kebijakan, BUMI berada pada posisi yang menguntungkan. Kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 yang dipangkas sekitar 24% tidak berdampak signifikan bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) seperti KPC dan Arutmin. Selain itu, skema royalti baru bagi pemegang IUPK memberikan penghematan biaya, dan kenaikan domestic market obligation (DMO) menjadi 30% tidak menjadi persoalan karena porsi penjualan domestik BUMI sudah berada di kisaran tersebut.

Dengan mempertimbangkan prospek yang cerah ini, MNC Sekuritas memulai cakupan saham BUMI dengan rekomendasi buy dan menetapkan target harga Rp 300. Angka ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham sebesar 50% dari posisi harga saat berita ini ditulis. Target harga tersebut menggunakan metode valuasi sum of the parts (SOTP), yang menggabungkan metode discounted cash flow (DCF) untuk aset yang sudah menghasilkan arus kas, serta valuasi EV/resource untuk aset yang masih dalam tahap pengembangan.

MNC Sekuritas menekankan bahwa peluang utama Bumi Resources terletak pada pergeseran komposisi nilai aset dari batu bara ke mineral. Namun, terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, termasuk potensi keterlambatan proyek, kinerja aset mineral yang tidak sesuai ekspektasi, perubahan regulasi dan perizinan, serta fluktuasi harga komoditas yang lebih rendah dari perkiraan.