DailyFX.ID — JAKARTA – Penyanyi Raisa Andriana untuk pertama kalinya merasakan pengalaman menjadi Srikandi dalam Pagelaran Sabang Merauke (PSM) – Hanya Indonesia yang Punya 2026. Pementasan yang digelar di Indonesia Arena, GBK Senayan, Jakarta, Jumat (21/8/2026) ini menandai debut Raisa dalam peran yang berbeda dari biasanya sebagai penyanyi.
Dalam pagelaran ini, Raisa tidak hanya membawakan lagu, tetapi juga mendalami karakter Srikandi melalui akting, blocking, interaksi dengan pemain lain, serta elemen gerak dan tari. Lagu yang dibawakannya, ‘Cahaya Hati’, menjadi bagian utuh dari perjalanan Srikandi Nusantara.
“Aku merasa hari ini akhirnya pecah telur juga jadi Srikandi. Aku senang karena bisa mengemban message yang begitu berat tapi juga begitu penting. Ketika dialog Srikandi aku utarakan, penonton benar-benar tepuk tangannya pakai hati karena message-nya diterima,” ujar Raisa. Ia merasa terharu melihat respons penonton yang menerima pesan dalam pementasan tersebut.
Berbeda dari pertunjukan budaya pada umumnya, Hikayat Srikandi Nusantara dirancang sebagai sebuah perjalanan cerita. Sosok Srikandi menjadi pintu gerbang untuk membawa penonton menyelami kisah keberanian, keteguhan, pengorbanan, dan cinta, nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Tantangan Baru untuk Yura Yunita
Penyanyi Yura Yunita juga turut memeriahkan pagelaran tersebut, menandai tahun ketiganya terlibat dalam PSM. Kali ini, Yura kembali menghadirkan kejutan yang telah menjadi ciri khasnya di setiap keterlibatannya.
Setelah sebelumnya tampil turun dari ketinggian menggunakan sling dan di atas naga yang mengeluarkan asap, pada tahun ini Yura tampil sebagai Mahadewi di atas naga berukuran jauh lebih besar dengan tiga kepala. Momen visual ini berhasil menyita perhatian penonton.
“Ini tahun ketiga aku terlibat dan terus diberi tantangan. Scene Mahadewi kali ini adalah part yang paling menantang. Dalam hitungan detik aku harus berpindah dari lantai atas ke bawah, bahkan naik motor di tengah show. Mikirin safety dan teknisnya luar biasa, dan persiapannya benar-benar berbulan-bulan,” kata Yura.
Yura juga menceritakan tentang kostum Mahadewi rancangan Ade Chan yang sarat dengan cerita magis. Pengalaman para penjahit hingga saat kostum dipamerkan di Singapura diartikan sebagai pertanda baik, memberikan makna emosional tambahan pada perannya.
“Di balik kostum Mahadewi itu banyak cerita magis. Buat aku, kemunculan-kemunculan itu terasa dalam hal yang indah, seperti dikasih ijin untuk memakai bajunya dan memerankan Mahadewi,” ujar Yura.
Libatkan Ribuan Pelaku Seni
Pagelaran tahun ini melibatkan deretan penampil lintas generasi, termasuk PADI Reborn, Indra Bekti, Mirabeth Sonia, dan banyak lagi. Tema terbaru, Hikayat Srikandi Nusantara, menjadi benang merah yang mempertemukan cerita, musik, tari, akting, busana, dan teknologi dalam satu perjalanan panggung.
Secara keseluruhan, terdapat sekitar 1.700 pelaku seni, kreatif, dan tim produksi yang terlibat. Sebanyak 387 penari menampilkan 104 koreografi dari 11 tim koreografer, didukung oleh 15 penyanyi nasional, satu grup band, 119 anggota paduan suara, 60 musisi orkestra, serta musisi yang memainkan 50 alat musik tradisional. Lebih dari 1.500 kostum tradisional, kontemporer, dan etnik Nusantara karya 16 desainer turut memperkaya visual pertunjukan.
Presiden Direktur dan CEO iForte & Protelindo Group, F. Aming Santoso, menyatakan bahwa arah PSM tidak hanya pada pengembangan skala pertunjukan, tetapi juga upaya membawa energi positif dan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap seni budaya Indonesia.
“Arah dari Pagelaran Sabang Merauke ini adalah menyalurkan energi positif kepada para penonton, betapa Indonesia ini negara yang luar biasa, penuh keberagaman, dan itu menunjukkan kekuatan bangsa Indonesia. Pagelaran ini dibuat dengan cara yang sangat Indonesia, penuh gotong royong, kekeluargaan, toleransi, saling menunggu, dan empati agar masyarakat jatuh cinta dengan kesenian dan budaya kita sendiri,” kata Aming.
Sutradara PSM, Rusmedie Agus, menambahkan bahwa kehadiran beragam karakter dan penampil memperluas lanskap musikal pertunjukan. Sebanyak 28 lagu daerah dan nasional dirangkai dalam berbagai aransemen, mulai dari musik tradisional, orkestra, paduan suara, hingga band dan musik populer.
Pengarah Musik PSM, Elwin Hendrijanto, menjelaskan bahwa ragam musik tradisional, orkestra, paduan suara, band, dan pop dibangun melalui proses kolaboratif yang saling menginspirasi. Dua tema utama, “Lantunan Satu Bangsa” dan “Cahaya Hati” (tema Srikandi), kembali dihadirkan untuk mengikat perjalanan musikal pertunjukan.
“Menurut saya Pagelaran Sabang Merauke adalah salah satu pagelaran yang paling ber-Bhinneka Tunggal Ika. Semua elemen bukan hanya gotong royong bekerja sama antar-departemen, tapi juga saling menginspirasi. Hari ini musiknya akhirnya lengkap karena setelah lagu selesai, ada reaksi penonton yang melengkapinya,” ujar Elwin.
Skala musikal diperkuat oleh 60 musisi orkestra dan 119 anggota paduan suara di bawah arahan Avip Priatna. Dunung Basuki mengarahkan penggunaan 50 alat musik tradisional agar memiliki peran signifikan dalam aransemen, tidak hanya sebagai ornamen.
Koreografer Utama PSM, Sandhidea Cahyo, bersama 11 tim koreografer mengembangkan permainan formasi, layer, dinamika kelompok, serta interaksi antar-karakter untuk 387 penari dan 104 koreografi agar bergerak selaras dengan cerita.
Kekuatan visual dibangun melalui lebih dari 1.500 kostum yang melibatkan 16 desainer, di bawah arahan Priyo Oktaviano. Kostum dirancang tidak hanya menonjol secara individual, tetapi juga terintegrasi dengan karakter, koreografi, pencahayaan, dan komposisi ratusan performer di panggung.
Penata Panggung PSM, Iskandar Loedin, merancang ruang agar tidak terus-menerus mengandalkan kemegahan. Ada momen ketika seluruh arena dibuka untuk spectacle berskala besar, namun ada pula bagian ketika ruang dipersempit secara visual untuk memfokuskan perhatian penonton pada satu karakter dan perjalanan emosinya.
Direktur Teknis PSM, Ezar PD, mengintegrasikan tata cahaya, visual, perubahan panggung, musik, serta pergerakan ratusan performer dalam rangkaian cue yang berjalan tanpa terputus. Kompleksitas teknis dirancang sebagai pendukung cerita agar teknologi tidak mengalihkan perhatian dari panggung.
Pertunjukan spektakuler ini didukung oleh dunia usaha, yaitu BCA. Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Antonius Widodo Mulyono menyatakan bahwa keterlibatan BCA sejalan dengan kedekatan perusahaan terhadap budaya dan keyakinan bahwa pelestarian budaya dapat tumbuh bersama ekonomi kreatif.
“BCA sendiri sudah lama bersentuhan dengan budaya, jadi ketika Pak Aming mengajak kami mendukung Pagelaran Sabang Merauke, itu langsung klik. Budaya tidak cukup hanya diwariskan, tapi harus dirawat, bahkan dikembangkan, supaya ekonominya juga bisa turut tumbuh,” kata Widodo.
Ikuti DailyFX.ID
