— TAIWAN – Aroma masakan Indonesia tak hanya pengobat rindu bagi warga negara yang jauh dari kampung halaman, tetapi juga bisa menjadi sebuah peluang bisnis. Sri Purwanti, perempuan asal Cilacap, Jawa Tengah, membuktikannya dengan membangun sebuah kedai makanan Indonesia di Taiwan. Kini, kedainya tidak hanya menjadi sumber penghidupan baginya, tetapi juga menjadi tempat bagi diaspora Indonesia untuk menemukan cita rasa rumah.

Selama lima tahun terakhir, Sri Purwanti telah menjalankan usaha kulinernya. Berawal dari pengalamannya sebagai seorang Muslim di Taiwan yang kesulitan menemukan makanan sesuai lidah dan syariat, muncul gagasan untuk membuka Kedai Sri Rahayu. Ia ingin memudahkan rekan-rekannya sesama diaspora mendapatkan makanan Indonesia.

“Pertama itu karena saya sendiri orang Muslim. Makan di luar itu susah. Jadi, saya ingin teman-teman yang sama seperti saya mudah mendapatkan makanan Indonesia. Kalau kita kangen makanan Indonesia, kita bisa mencarinya di sini,” tutur Sri Purwanti, yang lebih akrab disapa Sri Rahayu, kepada jurnalis yang berkunjung ke Taipei, Minggu (23/8/2026).

Keputusannya membuka kedai ternyata disambut baik. Sekitar 70 persen pelanggannya adalah warga Indonesia, sementara sisanya berasal dari kalangan non-Indonesia. Menu seperti nasi liwet, bakso, dan berbagai hidangan Nusantara lainnya menjadi favorit bagi mereka yang telah lama meninggalkan Tanah Air.

Usaha yang bermula dari kebutuhan sederhana ini terus berkembang. Sri melaporkan omzet kedainya kini mencapai Rp100 juta hingga Rp200 juta per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa diaspora Indonesia tidak hanya berperan sebagai pekerja migran, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha yang berkontribusi pada aktivitas ekonomi di luar negeri.

Perjalanan Sri Purwanti merupakan gambaran dari aktivitas ekonomi diaspora Indonesia di Taiwan. Taiwan memang menjadi salah satu tujuan utama pekerja migran Indonesia (PMI). Besarnya aktivitas ekonomi mereka juga tercermin dari remitansi. Data Bank Indonesia (BI) yang dikutip PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menunjukkan, remitansi PMI dari Taiwan mencapai sekitar US$2,97 miliar pada 2025, atau setara Rp47–48 triliun dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan US$1,37 miliar pada 2021.

Jarak yang Kian Pendek

Salah satu tantangan yang dihadapi Sri dalam menjalankan kehidupan dan usahanya di Taiwan adalah kemudahan mengirimkan uang ke Indonesia. Menyadari pentingnya hal ini bagi diaspora, Sri kemudian menjadi nasabah BRI sekitar dua tahun lalu. Pengalaman pertamanya memiliki rekening bank tersebut berawal dari penawaran petugas BRI di Taiwan.

“Saya pertama kali ini, seumur hidup, baru punya BRI. Dari dulu belum pernah punya,” ujarnya.

Perubahan paling signifikan dirasakan Sri dalam hal pengiriman uang ke Indonesia. Layanan digital BRI membuat proses yang sebelumnya merepotkan menjadi jauh lebih sederhana.

“Dulu kita susah untuk mengirimkan uang ke Indonesia. Sekarang dipermudah, kapan pun mau kirim bisa. Tengah malam atau jam berapa saja kita kirim itu cepat,” ungkapnya.

Sri kini terbiasa menggunakan BRImo untuk bertransaksi, dan proses pengiriman uang dapat diselesaikan dalam waktu lima menit, 24 jam sehari.

Pengalaman Sri menjadi semakin relevan dengan peluncuran BRImo Taiwan di New Taipei City Hall pada Minggu (23/8/2026). BRI menghadirkan ekosistem perbankan digital ini untuk memudahkan diaspora Indonesia di Taiwan melakukan transaksi finansial sehari-hari hingga mengirimkan dana ke Indonesia melalui satu aplikasi.

Layanan ini melengkapi ekspansi BRI di Taiwan. Sejak memperkuat kehadirannya melalui BRI Taipei Branch, total aset cabang tersebut telah melampaui US$408 juta. Hingga akhir Juli 2026, transaksi remitansi Taiwan–Indonesia melalui BRI mencapai sekitar US$490 juta, dengan lebih dari 3.400 rekening yang telah dilayani.

Jembatan Penghubung

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa kehadiran BRI di Taiwan bertujuan untuk mendekatkan diaspora dengan berbagai kebutuhan finansial di Tanah Air. “Kami ingin BRI menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan finansial di Taiwan dengan keluarga dan berbagai kebutuhan di Indonesia,” kata Hery.

Bagi Sri Rahayu, jembatan tersebut memiliki arti konkret. Ia dapat mencari penghidupan dan mengembangkan kedainya di Taiwan, sementara hasil jerih payahnya tetap mengalir dengan mudah ke Indonesia. Kisah Sri menggambarkan wajah lain diaspora Indonesia: sebagian tumbuh menjadi pengusaha, membangun kemandirian, dan tetap menjaga hubungan ekonomi serta emosional dengan keluarga di Tanah Air.

Dari sebuah kedai sederhana di Taiwan, Sri Rahayu membuktikan bahwa jarak ribuan kilometer tidak harus memutus ikatan dengan Indonesia. Bahkan, dari sana sebuah mimpi dapat tumbuh, berawal dari sepiring makanan Indonesia, berkembang menjadi usaha, dan akhirnya ikut menghidupi harapan di kampung halaman.