— JAKARTA – UMKM Fest sukses memeriahkan Pagelaran Sabang Merauke (PSM) 2026 yang berlangsung di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, pada 21-23 Agustus 2026. Pengunjung dimanjakan dengan beragam gerai yang menawarkan produk mulai dari makanan, minuman, hingga fashion.

Saat menunggu pembukaan PSM, para pengunjung dapat menikmati berbagai kuliner khas Indonesia seperti soto, seafood, empek-empek, dan bakso, ditemani minuman teh yang menyegarkan. Berbagai gerai produk fashion buatan Indonesia, termasuk busana, batik, dan alas kaki, juga turut menarik perhatian pengunjung.

Pagelaran Sabang Merauke 2026 yang diselenggarakan oleh iForte ini berjalan bersamaan dengan BCA UMKM Fest di lokasi yang sama. Festival UMKM ini menghadirkan 65 merchant Bangga Lokal BCA, yang bertujuan mempertemukan berbagai produk dan usaha lokal Indonesia dengan masyarakat yang hadir di Indonesia Arena.

Kehadiran kedua kegiatan dalam satu lokasi ini menciptakan pengalaman unik yang tidak hanya menampilkan kekayaan seni dan budaya Indonesia, tetapi juga memberikan ruang bagi karya dan usaha lokal untuk semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Kehadiran Hitachi POS turut melengkapi ekosistem UMKM Fest dengan mendukung para tenant melalui solusi POS yang terintegrasi dengan pembayaran BCA. “Kolaborasi antara Hitachi, iForte, dan BCA menunjukkan bagaimana budaya, bisnis, dan teknologi dapat berjalan beriringan. Teknologi hadir bukan untuk mengambil perhatian dari esensi perayaan budaya, melainkan bekerja di balik layar untuk membantu merchant menjalankan operasional dengan lebih praktis serta menciptakan pengalaman transaksi yang lebih nyaman,” kata Adityo Mulki Barraufu, Regional Merchant Acquisition Lead Jabodetabek di Hitachi Channel Solutions Indonesia.

Melalui Hitachi POS Terminal Riding, Hitachi terus mendorong pemanfaatan teknologi Point of Sales yang lebih praktis, terintegrasi, dan relevan dengan kebutuhan pelaku usaha Indonesia. Dari kekayaan budaya hingga karya para pelaku usaha lokal, Pagelaran Sabang Merauke 2026 menjadi ruang untuk merayakan Indonesia, diperkuat oleh kolaborasi dan teknologi yang mendukung setiap pengalaman di dalamnya.

Adityo menjelaskan bahwa solusi ini dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan merchant yang semakin dinamis, termasuk bisnis yang aktif mengikuti berbagai acara. “Kami memahami bahwa banyak pelaku usaha ingin fokus pada bisnis dan pelanggan mereka tanpa harus direpotkan dengan terlalu banyak perangkat saat bertransaksi. Terlebih bagi merchant yang aktif mengikuti bazaar, exhibition, atau event, mobilitas dan kepraktisan menjadi sangat penting. Melalui Hitachi POS Terminal Riding, kami ingin menghadirkan solusi yang sederhana, yaitu satu device yang bisa digunakan untuk operasional kasir sekaligus pembayaran. Merchant cukup membawa satu perangkat dan sudah bisa langsung berjualan dengan lebih praktis,” ujar Adityo.

Implementasi Hitachi POS Terminal Riding di Pagelaran Sabang Merauke menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat membantu merchant beradaptasi dengan kebutuhan operasional yang semakin fleksibel, terutama pada aktivitas bisnis di luar gerai reguler. “Kolaborasi bersama iForte dan BCA di Pagelaran Sabang Merauke menjadi wujud nyata komitmen kami untuk memperluas pemanfaatan solusi digital di tengah masyarakat, khususnya bagi para pelaku usaha,” kata Tiffany Desire, Marketing Lead Hitachi Channel Solutions Indonesia.

Pagelaran Sabang Merauke 2026 sendiri mengangkat tema Hikayat Srikandi Nusantara. Pertunjukan yang memasuki tahun kelima ini membawa kekayaan seni dan budaya Indonesia ke dalam satu perjalanan panggung yang mempertemukan cerita, musik, tari, akting, busana, serta teknologi. Srikandi dalam pagelaran ini diperankan oleh penyanyi Raisa Andriana.

Pagelaran ini melibatkan sekitar 1.700 pelaku seni, kreatif, dan tim produksi. Sebanyak 387 penari membawakan 104 koreografi karya 11 tim koreografer, bersama 15 penyanyi nasional dan satu grup band, 119 anggota paduan suara, 60 musisi orkestra, serta musisi yang memainkan 50 alat musik tradisional. Lebih dari 1.500 kostum tradisional, kontemporer, dan etnik Nusantara yang melibatkan 16 desainer juga ditampilkan demi membangun perubahan visual sepanjang pertunjukan.