— Miliarder investor Ray Dalio kembali melontarkan peringatan mengenai krisis utang Amerika Serikat yang dinilainya semakin mendekat. Pendiri Bridgewater Associates ini mengamati langkah Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah sebagai indikasi adanya tekanan serius pada kondisi keuangan negara.

Dalio menyarankan para investor untuk bersiap menghadapi risiko yang lebih besar. Caranya adalah dengan mengurangi kepemilikan aset berbasis utang, seperti obligasi, dan meningkatkan alokasi pada aset lindung nilai seperti emas serta Bitcoin.

“Saya yakin kondisi keuangan pemerintah berada pada titik balik. Jika masalah ini tidak ditangani sekarang, utang akan menumpuk hingga mencapai tingkat yang tidak dapat dikelola tanpa menimbulkan trauma besar,” tulis Dalio dalam unggahan di LinkedIn pada Jumat (21/8/2026).

Menurut Dalio, keputusan Bessent untuk meningkatkan pembelian kembali surat utang pemerintah AS, ditambah dengan keputusan Jepang mengurangi eksposur terhadap pasar obligasi AS dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS tenor panjang, semuanya menunjukkan meningkatnya risiko di pasar keuangan.

Dalio menilai kapasitas Departemen Keuangan AS untuk membeli kembali obligasi memiliki keterbatasan. Sebelumnya, Bessent menyatakan pemerintah akan berupaya menjadi pembeli di pasar, dengan nilai pembelian kembali obligasi yang diperkirakan mencapai lebih dari US$ 4 miliar.

Kekhawatiran utama Dalio berpusat pada defisit anggaran AS yang terus membesar. Ia menyebutkan bahwa pemerintah AS saat ini membelanjakan sekitar 40% lebih banyak dibandingkan pendapatannya, yang secara signifikan memperbesar defisit anggaran.

Meskipun defisit anggaran AS tercatat sebesar US$ 432 miliar pada Juli, Bessent optimistis defisit tersebut telah mencapai puncaknya di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump dan pemerintah sedang mencari cara untuk memangkas pengeluaran hingga ratusan miliar dolar.

Namun, Dalio berpendapat bahwa ruang untuk melakukan penghematan sangat terbatas karena sebagian besar belanja pemerintah sudah terikat atau dianggap sebagai pos penting. Ia menggambarkan kondisi utang pemerintah AS yang kini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan tahunan negara, mirip dengan situasi perusahaan yang mengalami pemborosan anggaran bertahun-tahun. Menurut perhitungannya, pembayaran pokok dan bunga utang pemerintah AS dapat mencapai sekitar US$ 11 triliun, atau sekitar 200% dari pendapatan tahunan.

Krisis Utang Mengintai

Dalio memperingatkan bahwa biaya pembayaran pokok dan bunga utang tersebut akan terus meningkat seiring waktu. Untuk mengatasi masalah ini, Dalio mengusulkan agar AS menerapkan strategi tiga arah secara bersamaan untuk menurunkan defisit anggaran hingga sekitar 3% dari produk domestik bruto (PDB).

Pertama, pemerintah perlu mengurangi pengeluaran. Kedua, pendapatan pajak harus ditingkatkan. Ketiga, suku bunga perlu diturunkan. “Ketiganya harus terjadi secara bersamaan agar tidak ada satu penyesuaian yang menjadi terlalu besar,” kata Dalio.

Ia menambahkan bahwa jika salah satu langkah dilakukan secara berlebihan, penyesuaian ekonomi yang terjadi justru dapat menimbulkan guncangan besar. Dalio juga mengingatkan agar pemerintah tidak memaksakan penyesuaian tersebut. Ia menilai akan sangat buruk jika The Fed secara tidak alami memaksa suku bunga turun.

Waktu terjadinya krisis utang, menurut Dalio, sangat bergantung pada berbagai faktor, mulai dari konflik militer hingga perubahan politik. Dengan kebijakan yang ada saat ini, ia memperkirakan AS bisa memasuki krisis tersebut dalam waktu satu hingga lima tahun ke depan. “Perkiraan saya, yang mungkin saja keliru, adalah krisis itu akan terjadi dalam tiga tahun, plus atau minus dua tahun, jika arah kebijakan saat ini tidak berubah,” ujar Dalio.

Dalio menilai langkah untuk mengatasi persoalan utang sebaiknya dilakukan ketika ekonomi masih dalam kondisi sehat. Alasannya, ketika ekonomi memasuki resesi, pemerintah justru akan membutuhkan peningkatan belanja untuk menopang perekonomian.

Untuk menghadapi potensi krisis ini, Dalio menyarankan investor untuk mengurangi bobot aset berbasis utang, seperti obligasi. Sebaliknya, ia merekomendasikan alokasi sekitar 10%-15% portofolio pada emas, ditambah ‘sedikit’ Bitcoin.

Pandangan Dalio ini muncul setelah pasar keuangan AS mengalami volatilitas tinggi sepanjang pekan ini. Kenaikan imbal hasil Treasury tenor panjang menekan pasar saham dan membuat S&P 500 mengakhiri reli tiga pekan berturut-turut. Kombinasi meningkatnya beban utang, defisit anggaran, kenaikan imbal hasil obligasi, dan ketidakpastian kebijakan membuat perhatian investor kembali tertuju pada aset lindung nilai seperti emas dan Bitcoin.