DailyFX.ID — Harga emas terpantau menguat pada perdagangan Rabu (19/8/2026), didorong oleh meredanya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau Treasury. Pasar kini menantikan risalah rapat Federal Reserve (The Fed) untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.
Saat berita ditulis, harga emas tercatat naik 0,45% menjadi US$ 4.354,11 per ons troi. Penguatan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga emas sempat mengalami penurunan hampir 2%. Sementara itu, harga emas berjangka AS terpantau turun 0,29% menjadi US$ 4.407,82 per ons troi.
Menurut Reuters, imbal hasil Treasury AS berbalik arah menjadi turun setelah sebelumnya menyentuh level tinggi. Pergerakan ini terjadi di tengah aksi jual obligasi global yang mendorong biaya pinjaman jangka panjang di sejumlah negara maju mendekati level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Senior Market Analyst OANDA, Kelvin Wong, mengemukakan bahwa berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal menjadi faktor positif bagi pergerakan harga emas. Pasar saat ini menantikan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juli yang dijadwalkan akan dirilis pada hari ini.
Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan probabilitas The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan depan sebesar 64%, sementara peluang kenaikan suku bunga tercatat sebesar 36%. Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga ini terjadi setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan adanya pelemahan.
Secara umum, suku bunga yang lebih rendah cenderung memberikan keuntungan bagi emas karena dapat mengurangi biaya peluang bagi investor yang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Emas Berpeluang Menguat
Head of Market Research FXTM, Lukman Otunuga, menyatakan bahwa harga emas memiliki potensi untuk melanjutkan penguatannya jika mampu menembus level teknikal tertentu.
“Penembusan berkelanjutan di atas US$ 4.390 per ons troi dapat membuka jalan menuju US$ 4.505 per ons troi, sementara penurunan di bawah US$ 4.300 per ons troi dapat membuka ruang menuju US$ 4.200 per ons troi dan US$ 4.150 per ons troi,” ujar Otunuga.
Dari sisi geopolitik, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian pasar. Presiden AS Donald Trump pada Selasa lalu menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka. Pernyataan ini sedikit bertentangan dengan klaim Iran yang menyebut jalur strategis tersebut masih ditutup bagi pelayaran.
Sementara itu, harga minyak tercatat mengalami kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut.
Di pasar logam lainnya, harga perak spot mengalami penurunan sebesar 0,59% menjadi US$ 62,96 per ons. Di sisi lain, harga platinum naik 0,33% menjadi US$ 1.722,33 per ons, dan palladium menguat 0,13% ke level US$ 1.291,1 per ons.
TD Securities memperkirakan perak dan kelompok logam platinum berpotensi mendapatkan dukungan dari kondisi makroekonomi pada paruh kedua tahun 2027. Penurunan risiko inflasi, pelemahan dolar AS, dan biaya carry yang lebih rendah diperkirakan akan memberikan dorongan yang lebih kuat terhadap harga kedua logam tersebut dibandingkan dengan emas.
Ikuti DailyFX.ID
